Belum lama ini, kita semua telah merasakan betapa cepat perkembangan AI. Bukan hanya anak-anak teknologi, tetapi semua lapisan masyarakat merasakannya baik melalui sosial media, saluran TV dan lain sebagainya.
Siapa sih sekarang yang tidak menggunakan Tools AI? Bahkan siswa sudah akrab dengan beberapa jenis tools AI seperti misalnya “ChatGPT” untuk mengerjakan tugas dan belajar.
Jika kembali ke masa lalu, dahulu kita mencari informasi harus membaca di perpus, mencari jurnal atau surat kabar. Setelahnya kita dipermudah dengan adanya internet yang dengan itu, kita dapat terhubung dengan seluruh dunia untuk akses berbagai informasi secara cepat.
Namun saat ini dunia sudah semakin canggih. Dengan hadirnya AI, segala hal dapat dilakukan dengan sangat cepat. Mencari informasi spesifik, membuat foto, membuat video dan sebagainya dapat dilakukan hanya dengan menulis sesuai keinginan kita dan dalam sekejap apa yang kita inginkan sudah ada didepan mata.
AI telah menjadi elemen penting dalam rutinitas harian kita. Perkembangan dalam sejarah AI ini tidak hanya memodifikasi cara kita berinteraksi dengan teknologi, tetapi juga memberikan peluang untuk inovasi di berbagai bidang industri.
Indonesia memiliki kemampuan untuk memaksimalkan penggunaan Kecerdasan Artifisial (AI) sebagai bagian dari ekosistem digital guna mendorong kemajuan nasional untuk mencapai cita-cita Indonesia Emas 2045, sesuai dengan yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, serta Visi, Misi, dan Program Presiden dan Wakil Presiden yang dijelaskan melalui Asta Cita.
Indonesia telah meluncurkan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020-2045 (STRANAS KA 2020) sebagai langkah awal dalam merancang strategi pengembangan ekosistem Kecerdasan Artifisial.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan bahwa Indonesia siap menjadi pemimpin transformasi digital di Asia melalui pengembangan kecerdasan artifisial (AI) yang inklusif, etis, dan berpihak pada kesejahteraan rakyat. Hal ini disampaikan saat Meutya memberi pidato dalam Asia Economic Summit di Jakarta, Kamis (26/06/2025).
Kecerdasan Artificial menjadi pusat perhatian dalam pembicaraan global pada World Economic Forum (WEF) 2025. Forum ini mengeksplorasi berbagai aspek penting dari Kecerdasan Artifisial termasuk pengaruhnya pada industri, perubahan permintaan tenaga kerja, etika, inovasi, serta penggunaannya di sektor keuangan dan kesehatan.
Indonesia berada di urutan 10 terbesar di dunia untuk pengguna aktif harian Kecerdasan Artifisial generatif, didukung oleh lebih dari 221 juta pengguna internet (Boston Consulting Group, 2024). Pedoman etika KA yang tercantum dalam Surat Edaran (SE) Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023 mengenai Etika KA mencerminkan upaya Indonesia untuk menyelaraskan pengelolaan etika dalam pengembangan KA di tingkat nasional.
Inisiatif ini sejalan dengan praktek negara-negara yang telah lebih dahulu mengembangkan Kecerdasan Artifisial yang umumnya mengadopsi panduan etika KA dari organisasi internasional dan regional seperti United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), Uni Eropa, dan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN).
Baca juga: Revolusi Industri: Cara Adaptasi di Era Digital Teknologi
Berdasarkan Buku Putih Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional (Komdigi, 2025) ada 10 Bidang Prioritas Kecerdasan Artifisial Nasional. Bidang Prioritas Nasional mencakup area tertentu yang akan ditargetkan secara strategis dalam pengembangan dan pemanfaatan use case KA agar memberikan dampak yang maksimal, efektif, dan berkelanjutan.
Berikut ini 10 Bidang Prioritas Kecerdasan Artifisial Nasional:
Penetapan Bidang Prioritas Nasional merujuk pada RPJPN 2025-2045, RPJMN 2025-2029, dan Asta Cita untuk memastikan inisiatif KA sejalan dengan arah pembangunan nasional serta prioritas transformasi digital. Penentuan prioritas nasional untuk kasus penggunaan KA dilakukan dengan pendekatan yang praktis, strategis, dan berdasarkan kebutuhan nyata pembangunan.
Untuk memastikan terbentuknya Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional yang inklusif, adaptif, berkelanjutan, dan dapat diimplementasikan dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan, arah kebijakan dan strategi yang menjadi acuan pengembangan KA nasional terefleksikan dalam empat fokus, yaitu:
Keempat fokus utama diatas merupakan elemen yang tak terpisahkan dan saling berhubungan satu sama lain, serta memiliki tujuan spesifik yang perlu dijalankan bersamaan secara optimal, agar tidak terjadi ketidakseimbangan dalam pelaksanaan di masa mendatang.
Baca juga: DTI-CX 2025: Berbagi Cerita, Solusi Hingga Kolaborasi
Roadmap AI Indonesia adalah upaya proaktif dan visioner yang mencerminkan kesungguhan pemerintah dalam menyongsong era digital teknologi global terkhusus pada Kecerdasan Artifisial. Dengan menekankan pengembangan SDM, etika, dan penerapan praktis di sektor utama, Indonesia berpeluang menjadi salah satu aktor AI yang diperhatikan di arena internasional.
10 Bidang Prioritas Kecerdasan Artifisial Nasional yaitu Ketahanan Pangan, Kesehatan, Pendidikan, Ekonomi dan Keuangan, Reformasi Birokrasi, Polhukam, Energi & Sumber Daya serta Lingkungan, Perumahan, Transportasi & Logistik serta Infrastruktur, Seni & Budaya serta Ekonomi Kreatif menjadi bagian pertama dalam program ini. Tentunya tujuan utamanya adalah meningkatkan produktivitas, efektifitas dan efisiensi sesuai tujuan strategis Nasional.
Jangan sampai ketinggalan update seputar teknologi nasional dan global. Ada dapat bergabung menjadi member FRC Ecosystem agar tetap ter-update dengan berita terbaru seputar teknologi. Selengkapnya silahkan kunjungi https://msbu.co.id/en/frc