Cara Menyusun Pertanyaan Interview yang Lebih Informatif
Read Time 8 mins | 06 Jan 2026 | Written by: Nur Rachmi Latifa

Dalam proses rekrutmen, pertanyaan interview memegang peran yang jauh lebih penting dibanding sekadar formalitas tanya jawab. Interview bukan hanya sarana untuk mengenal kandidat secara umum, tetapi juga momen krusial untuk menggali kompetensi, pola pikir, perilaku, hingga kecocokan kandidat dengan kebutuhan organisasi. Sayangnya, masih banyak proses interview yang menghasilkan informasi dangkal karena pertanyaannya terlalu umum dan kurang informatif. Artikel ini akan membahas secara komprehensif bagaimana cara menyusun pertanyaan interview yang lebih informatif, relevan, dan berdampak langsung pada kualitas keputusan rekrutmen Anda.
Mengapa Pertanyaan Interview Harus Informatif?
Interview yang baik bukan tentang seberapa banyak pertanyaan yang diajukan, melainkan tentang seberapa dalam informasi yang bisa digali dari setiap jawaban. Pertanyaan interview yang informatif akan membantu Anda dalam berbagai aspek penting proses rekrutmen, antara lain:
- Mengurangi bias subjektif
Pertanyaan interview yang terstruktur dan berbasis data membantu interviewer menilai kandidat secara lebih objektif, sehingga keputusan tidak semata-mata dipengaruhi kesan personal atau intuisi sesaat. - Memprediksi performa kerja
Jawaban atas pertanyaan berbasis pengalaman nyata dan perilaku masa lalu terbukti lebih akurat dalam memprediksi kinerja kandidat di masa depan dibandingkan pertanyaan yang bersifat hipotetis. - Menghemat waktu rekrutmen
Interview yang informatif mempercepat proses pengambilan keputusan karena informasi yang diperoleh lebih jelas, relevan, dan langsung berkaitan dengan kebutuhan peran. - Meningkatkan kualitas hiring
Kandidat yang lolos seleksi bukan hanya terlihat meyakinkan saat interview, tetapi benar-benar memiliki kompetensi, pola pikir, dan perilaku yang sesuai dengan tuntutan pekerjaan.
Dengan kata lain, interview yang informatif adalah fondasi dari proses rekrutmen yang sehat, objektif, dan berkelanjutan, serta berperan besar dalam memastikan organisasi mendapatkan talenta yang tepat sejak awal.
Baca juga: Kenapa WhatsApp Jadi Alat Penting dalam Rekrutmen Saat Ini?
Kesalahan Umum dalam Menyusun Pertanyaan Interview
Sebelum masuk ke teknik penyusunan pertanyaan interview yang lebih informatif, penting untuk memahami beberapa kesalahan umum yang masih sering terjadi dalam proses interview dan berdampak pada rendahnya kualitas informasi yang diperoleh.
- Pertanyaan terlalu umum
Pertanyaan seperti “Ceritakan tentang diri Anda” atau “Apa kelebihan dan kekurangan Anda?” sering menghasilkan jawaban klise, sulit diverifikasi, dan memiliki nilai prediktif yang rendah terhadap performa kerja kandidat. - Pertanyaan ya/tidak
Pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan “ya” atau “tidak” tidak mendorong kandidat untuk menjelaskan konteks, proses berpikir, maupun pengalaman nyata yang relevan dengan pekerjaan. - Tidak relevan dengan pekerjaan
Beberapa interviewer mengajukan pertanyaan yang menarik secara personal, tetapi tidak berhubungan langsung dengan kompetensi, tanggung jawab, atau tantangan dari peran yang akan dijalani kandidat. - Terlalu hipotetis
Pertanyaan seperti “Apa yang akan Anda lakukan jika menghadapi konflik dengan atasan?” cenderung menghasilkan jawaban normatif yang mencerminkan niat ideal, bukan perilaku nyata yang pernah dilakukan kandidat.
Kesalahan-kesalahan ini membuat interview kehilangan fungsinya sebagai alat evaluasi yang objektif dan informatif.
Prinsip Dasar Pertanyaan Interview yang Informatif
Agar interview benar-benar memberikan insight yang bernilai, pertanyaan perlu disusun berdasarkan prinsip-prinsip yang jelas dan terarah, bukan sekadar mengikuti kebiasaan.
- Berbasis kompetensi
Setiap pertanyaan interview harus mengacu pada kompetensi inti yang dibutuhkan dalam peran tersebut, baik hard skill maupun soft skill, sehingga jawaban kandidat relevan dengan kebutuhan pekerjaan. - Berbasis perilaku (behavioral-based)
Perilaku masa lalu kandidat merupakan indikator terbaik untuk memprediksi perilaku dan performa kerja di masa depan, dibandingkan asumsi atau jawaban hipotetis. - Spesifik dan kontekstual
Pertanyaan yang informatif selalu memiliki konteks yang jelas, menggambarkan situasi nyata, dan tidak bersifat abstrak atau terlalu umum. - Terstruktur
Struktur pertanyaan yang konsisten memudahkan interviewer membandingkan jawaban antar kandidat secara adil dan membantu mengurangi bias dalam proses penilaian.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, interview tidak hanya menjadi sesi tanya jawab, tetapi alat strategis untuk menggali informasi mendalam dan mendukung keputusan rekrutmen yang lebih akurat.
Menggunakan Pendekatan STAR dalam Interview
Salah satu cara paling efektif untuk membuat pertanyaan interview menjadi lebih informatif adalah dengan menggunakan pendekatan STAR. Metode ini membantu interviewer menggali pengalaman nyata kandidat secara terstruktur, sehingga jawaban yang diberikan tidak berhenti pada opini, tetapi mencerminkan perilaku dan cara kerja yang sebenarnya. Pendekatan STAR terdiri dari empat elemen utama yang saling berkaitan:
- Situation: situasi atau kondisi yang dihadapi kandidat
- Task: tugas atau tanggung jawab yang harus diselesaikan
- Action: tindakan konkret yang diambil kandidat
- Result: hasil atau dampak dari tindakan tersebut
Dengan kerangka ini, interviewer dapat memahami konteks masalah, peran kandidat, cara berpikir, hingga hasil nyata yang dicapai. Sebagai contoh, alih-alih bertanya “Apakah Anda bisa bekerja di bawah tekanan?”, pertanyaan dapat diubah menjadi “Ceritakan pengalaman ketika Anda harus menyelesaikan pekerjaan dengan deadline sangat ketat. Apa situasinya, apa peran Anda, tindakan apa yang Anda ambil, dan bagaimana hasilnya?”. Pertanyaan seperti ini jauh lebih informatif karena menggali proses pengambilan keputusan, cara menghadapi tekanan, serta dampak nyata dari tindakan kandidat dalam situasi kerja sesungguhnya.
Jenis Pertanyaan Interview yang Lebih Informatif
Agar interview benar-benar menghasilkan insight yang bernilai, penting bagi interviewer untuk menggunakan variasi pertanyaan yang mampu menggali pengalaman, cara berpikir, dan nilai kandidat secara menyeluruh, bukan hanya kemampuan menjawab dengan baik.
Pertanyaan Berbasis Pengalaman Nyata
Jenis pertanyaan ini berfokus pada pengalaman konkret yang benar-benar pernah dialami kandidat, sehingga jawaban lebih mudah diverifikasi dan memiliki nilai prediktif tinggi terhadap performa kerja. Contohnya seperti “Proyek paling menantang apa yang pernah Anda tangani, dan apa kontribusi spesifik Anda?” atau “Pernahkah Anda gagal dalam pekerjaan? Apa penyebabnya dan apa yang Anda pelajari?”.
Pertanyaan Problem-Solving Kontekstual
Pertanyaan ini tidak bersifat hipotetis, tetapi dikaitkan langsung dengan situasi nyata yang relevan dengan pekerjaan, sehingga interviewer dapat melihat bagaimana kandidat merespons tantangan serupa di dunia kerja. Contohnya, “Di peran ini, kami sering menghadapi perubahan prioritas mendadak. Bisakah Anda ceritakan pengalaman Anda menghadapi situasi serupa?”.
Pertanyaan Pengambilan Keputusan
Pertanyaan ini menggali cara kandidat menganalisis masalah, menentukan prioritas, dan mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan. Contoh pertanyaan yang informatif adalah “Pernahkah Anda harus memilih antara kualitas dan kecepatan kerja? Bagaimana Anda mengambil keputusan saat itu?”.
Pertanyaan Kolaborasi dan Komunikasi
Untuk peran yang melibatkan kerja tim, jenis pertanyaan ini sangat penting karena membantu menilai kemampuan kandidat dalam bekerja sama dan berkomunikasi dengan berbagai tipe individu. Contohnya, “Ceritakan pengalaman bekerja dengan rekan kerja yang memiliki gaya komunikasi sangat berbeda dengan Anda.”.
Pertanyaan Nilai dan Etika Kerja
Pertanyaan ini bertujuan menilai kesesuaian kandidat dengan budaya dan nilai organisasi, terutama dalam situasi yang menantang secara etis. Contoh yang relevan adalah “Pernahkah Anda berada dalam situasi di mana nilai pribadi Anda bertentangan dengan arahan atasan? Bagaimana Anda menyikapinya?”.
Dengan mengombinasikan berbagai jenis pertanyaan interview ini, proses interview tidak hanya menjadi lebih informatif, tetapi juga membantu organisasi mendapatkan gambaran utuh tentang kompetensi, perilaku, dan nilai kandidat secara lebih objektif.
Menyesuaikan Pertanyaan Interview dengan Level Jabatan Interview untuk Entry-Level
Menyesuaikan pertanyaan interview dengan level jabatan sangat penting agar informasi yang digali benar-benar relevan. Untuk entry-level, fokus utama interview sebaiknya bukan pada pengalaman panjang, melainkan pada potensi belajar, cara berpikir, dan sikap kandidat terhadap tanggung jawab. Pertanyaan seperti “Ceritakan pengalaman Anda menyelesaikan tugas yang belum pernah Anda kerjakan sebelumnya” membantu interviewer melihat bagaimana kandidat menghadapi hal baru, mencari solusi, dan bertahan dalam proses belajar.
Pada mid-level, interview perlu menggali pengalaman teknis yang lebih matang, kemampuan mengelola waktu, serta cara kandidat bekerja dalam tim lintas fungsi. Kandidat di level ini biasanya sudah terbiasa menangani beberapa tanggung jawab sekaligus, sehingga pertanyaan seperti “Bagaimana cara Anda mengatur prioritas ketika mengelola beberapa proyek sekaligus?” dapat memberikan gambaran jelas tentang kemampuan organisasi, komunikasi, dan pengambilan keputusan sehari-hari.
Sementara itu, untuk senior atau leadership, interview harus berfokus pada pengambilan keputusan strategis, kepemimpinan, dan manajemen risiko. Di level ini, yang dinilai bukan lagi sekadar eksekusi, tetapi dampak dari keputusan terhadap tim dan organisasi. Pertanyaan seperti “Ceritakan keputusan sulit yang pernah Anda ambil sebagai pimpinan dan dampaknya bagi tim” membantu interviewer memahami gaya kepemimpinan kandidat, keberanian mengambil tanggung jawab, serta cara mengelola konsekuensi dari keputusan besar.
Teknik Follow-Up agar Interview Lebih Informatif
Pertanyaan interview yang baik akan memberikan hasil yang jauh lebih bernilai jika diikuti dengan follow-up yang tepat. Follow-up bukan berarti menguji atau menekan kandidat, melainkan membantu interviewer memahami konteks, proses berpikir, dan alasan di balik jawaban yang disampaikan. Beberapa contoh pertanyaan follow-up yang efektif antara lain:
- “Apa pertimbangan utama Anda saat itu?”
- “Apa alternatif lain yang sempat Anda pikirkan?”
- “Jika situasi yang sama terjadi lagi, apa yang akan Anda lakukan berbeda?”
Pertanyaan-pertanyaan ini mendorong kandidat untuk merefleksikan keputusan yang diambil, menjelaskan prioritas, serta menunjukkan kemampuan evaluasi diri. Dengan teknik follow-up yang tepat, interview tidak hanya menghasilkan cerita permukaan, tetapi juga insight mendalam tentang cara kandidat berpikir dan bertindak dalam situasi nyata.
Cara Mengevaluasi Jawaban Kandidat Secara Objektif
Agar interview benar-benar menghasilkan insight yang informatif, jawaban kandidat perlu dievaluasi menggunakan kriteria yang jelas dan konsisten. Tanpa standar penilaian, interview mudah berubah menjadi penilaian subjektif yang dipengaruhi kesan personal, bukan data.
Gunakan Scoring Rubric
Buat skala penilaian yang terstruktur untuk setiap jawaban kandidat, misalnya berdasarkan relevansi pengalaman, kejelasan peran yang dijelaskan, dampak hasil yang dicapai, serta kemampuan kandidat dalam merefleksikan keputusan dan pembelajaran yang diperoleh.
Catat Fakta, Bukan Opini
Hindari mencatat kesan subjektif seperti “terlihat percaya diri” atau “terkesan pintar”. Fokuslah pada fakta konkret dari jawaban kandidat, seperti tindakan yang diambil, hasil yang dicapai, dan konteks situasi yang dijelaskan.
Bandingkan Jawaban Antar Kandidat
Struktur pertanyaan yang konsisten memudahkan interviewer membandingkan jawaban secara adil dan objektif, sehingga keputusan tidak didasarkan pada siapa yang paling pandai berbicara, melainkan siapa yang paling relevan dengan kebutuhan peran.
Dengan evaluasi yang objektif dan berbasis data, interview tidak hanya menjadi alat seleksi, tetapi juga proses pengambilan keputusan yang lebih akurat, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan. Pendekatan ini membantu organisasi memilih kandidat berdasarkan bukti nyata, bukan sekadar kesan sesaat.
Menghindari Bias dalam Interview
Interview yang informatif tidak akan efektif jika masih dipengaruhi oleh bias kognitif. Beberapa bias yang paling sering muncul dalam interview antara lain:
- Halo effect, ketika satu kesan positif menutupi kelemahan lain
- Similarity bias, ketika interviewer lebih menyukai kandidat yang mirip dengan dirinya
- Confirmation bias, ketika interviewer hanya mencari jawaban yang mendukung asumsi awal
Untuk meminimalkan bias tersebut, beberapa langkah yang dapat diterapkan adalah:
- Menggunakan daftar pertanyaan yang terstruktur dan konsisten
- Melibatkan lebih dari satu interviewer untuk sudut pandang yang seimbang
- Memfokuskan penilaian pada data, perilaku, dan pengalaman nyata, bukan asumsi pribadi
Dengan pendekatan ini, keputusan rekrutmen menjadi lebih adil dan dapat dipertanggungjawabkan.
Checklist Menyusun Pertanyaan Interview yang Informatif
Sebelum melakukan interview, gunakan checklist berikut untuk memastikan pertanyaan yang disusun benar-benar informatif dan relevan:
- Setiap pertanyaan relevan dengan kompetensi inti yang dibutuhkan
- Pertanyaan mendorong kandidat bercerita dan menjelaskan pengalaman, bukan menjawab singkat
- Terdapat rencana follow-up untuk menggali jawaban lebih dalam
- Penilaian jawaban berbasis kriteria yang jelas dan terukur
- Interviewer memahami tujuan dari setiap pertanyaan yang diajukan
Checklist ini membantu memastikan interview berjalan lebih terarah, objektif, dan mampu menghasilkan informasi yang benar-benar mendukung keputusan rekrutmen.
Baca juga: Perekrutan Berbasis Data, Solusi Menghindari Salah Rekrut Karyawan
Kesimpulan
Menyusun pertanyaan interview yang lebih informatif bukanlah soal kreativitas semata, melainkan soal strategi dan pemahaman mendalam tentang kebutuhan organisasi. Interview yang efektif membantu Anda melihat kandidat secara utuh dan bukan hanya dari CV, tetapi dari cara berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan dalam situasi nyata. Dengan menerapkan prinsip-prinsip di atas, proses interview Anda tidak hanya akan terasa lebih profesional, tetapi juga menghasilkan informasi yang benar-benar bernilai untuk keputusan rekrutmen jangka panjang. Pada akhirnya, interview yang informatif adalah investasi penting untuk membangun tim yang tepat, berkelanjutan, dan selaras dengan tujuan bisnis Anda.
Anda bisa mengunjungi MSBU Konsultan!, layanan IT staffing dan rekrutmen yang dapat membantu perusahaan Anda menemukan kandidat terbaik dengan lebih aman dan efisien.
