7 Kesalahan Umum dalam Membentuk Tim IT Internal
Read Time 6 mins | 20 Jan 2026 | Written by: Nur Rachmi Latifa

Tim IT Internal memegang peranan strategis dalam memastikan kelangsungan operasional, keamanan sistem, serta kemampuan perusahaan untuk berinovasi. Namun, banyak organisasi—baik skala menengah maupun besar masih melakukan kesalahan mendasar saat membentuk tim ini. Kesalahan tersebut sering kali tidak langsung terlihat di awal, tetapi dampaknya bisa sangat signifikan dalam jangka menengah dan panjang: mulai dari inefisiensi biaya, sistem yang rapuh, hingga tingginya risiko keamanan siber. Artikel ini membahas 7 kesalahan umum dalam membentuk Tim IT Internal, lengkap dengan penjelasan dampak dan cara menghindarinya.
Mengapa Pembentukan Tim IT Internal Tidak Bisa Dilakukan Secara Sembarangan
Di tengah percepatan transformasi digital, Tim IT Internal bukan lagi sekadar fungsi pendukung teknis. Tim ini menjadi tulang punggung operasional bisnis, mulai dari menjaga stabilitas sistem, mendukung produktivitas karyawan, hingga memastikan keamanan data dan layanan digital perusahaan.
Namun, banyak organisasi membentuk Tim IT Internal secara reaktif—berangkat dari kebutuhan mendesak, keterbatasan anggaran, atau sekadar meniru struktur perusahaan lain. Pendekatan seperti ini sering kali mengabaikan aspek strategis, kesiapan jangka panjang, dan keterkaitan erat antara teknologi, manusia, dan proses bisnis.
Akibatnya, Tim IT Internal yang seharusnya menjadi enabler justru berubah menjadi sumber masalah baru. Untuk memahami di mana letak kesalahan yang paling sering terjadi, pembahasan berikut akan mengulas secara mendalam 7 Kesalahan Umum dalam Membentuk Tim IT Internal yang perlu dihindari oleh setiap organisasi.
Baca juga: 10 Role IT yang Paling Sering Di-Staffing oleh Perusahaan
1. Menganggap Tim IT Internal Hanya sebagai Support Teknis
Kesalahan paling umum dalam membentuk Tim IT Internal adalah memosisikannya hanya sebagai helpdesk atau tim pemadam masalah teknis. Dalam banyak organisasi, tim IT baru dilibatkan ketika sistem bermasalah, jaringan down, atau aplikasi error, sehingga perannya menjadi reaktif dan terbatas pada operasional harian.
Padahal, Tim IT Internal seharusnya berperan strategis dan terlibat dalam perencanaan serta pengambilan keputusan bisnis berbasis teknologi. Ketika peran ini tidak dijalankan, IT akan terus dipandang sebagai cost center, bukan sebagai penggerak nilai bisnis.
Peran strategis Tim IT Internal seharusnya mencakup:
- Perencanaan sistem dan arsitektur teknologi
- Pengambilan keputusan terkait tools dan platform
- Inisiatif digitalisasi proses bisnis
- Manajemen risiko teknologi dan keamanan informasi
Solusi:
Libatkan Tim IT Internal sejak tahap perencanaan bisnis dan strategi agar mereka memahami tujuan bisnis, bukan hanya spesifikasi teknis.
2. Tidak Memiliki Struktur Peran yang Jelas
Banyak perusahaan membentuk Tim IT Internal tanpa struktur peran yang jelas, terutama pada tahap awal pertumbuhan. Satu orang sering kali merangkap berbagai fungsi sekaligus, mulai dari operasional jaringan hingga keamanan informasi.
Kondisi ini membuat akuntabilitas menjadi lemah dan meningkatkan risiko kesalahan. Ketika terjadi insiden, sulit menentukan tanggung jawab, sementara dokumentasi dan kontrol sistem sering terabaikan.
Dampak dari struktur peran yang tidak jelas:
- Beban kerja tidak seimbang
- Risiko human error meningkat
- Burnout pada anggota Tim IT Internal
- Dokumentasi dan kontrol sistem tidak optimal
Solusi:
Definisikan peran dan tanggung jawab secara jelas meskipun tim masih kecil, seperti:
- IT Operations
- Application & System Support
- IT Security & Compliance
- IT Governance / Project Coordination
3. Merekrut Berdasarkan Skill Teknis Saja
Skill teknis memang penting, tetapi Tim IT Internal tidak bekerja dalam ruang hampa. Mereka berinteraksi dengan user non-teknis, manajemen, vendor, dan pihak eksternal yang memiliki sudut pandang berbeda. Kesalahan umum terjadi ketika rekrutmen hanya berfokus pada sertifikasi dan penguasaan tools, tanpa memperhatikan kemampuan komunikasi dan pemahaman bisnis. Akibatnya, solusi teknis sering tidak relevan dengan kebutuhan organisasi.
Fokus rekrutmen yang terlalu sempit biasanya pada:
- Sertifikasi teknis
- Penguasaan tools tertentu
- Pengalaman teknis semata
Solusi:
Seimbangkan rekrutmen antara hard skill, soft skill, dan business awareness agar Tim IT Internal mampu menerjemahkan kebutuhan bisnis menjadi solusi teknologi yang efektif.
4. Mengabaikan Aspek Keamanan Sejak Awal
Banyak organisasi membentuk Tim IT Internal dengan fokus pada stabilitas sistem dan kecepatan delivery. Aspek keamanan sering dianggap sebagai prioritas sekunder atau sepenuhnya diserahkan kepada vendor.
Pendekatan ini sangat berisiko karena keamanan informasi adalah fondasi, bukan fitur tambahan. Tanpa mindset security-by-design, risiko kebocoran data dan insiden siber akan terus meningkat.
Area keamanan yang sering terabaikan:
- Pengelolaan akses user
- Perlindungan data sensitif
- Risiko phishing dan social engineering
- Kepatuhan terhadap regulasi
Solusi:
Jadikan keamanan sebagai bagian integral dari mandat Tim IT Internal dan tanamkan kesadaran bahwa setiap keputusan teknologi memiliki implikasi risiko.
5. Tidak Menyediakan Jalur Pengembangan dan Upskilling
Perkembangan teknologi yang cepat menuntut Tim IT Internal untuk terus belajar dan beradaptasi. Namun, banyak organisasi tidak menyediakan jalur pengembangan yang jelas bagi tim IT mereka. Tanpa program pengembangan berkelanjutan, tim akan mengandalkan pengetahuan lama yang semakin tidak relevan, menurunkan kualitas sistem dan motivasi kerja.
Kesalahan umum dalam pengembangan tim:
- Tidak ada budget training
- Tidak ada roadmap pengembangan skill
- Tidak ada evaluasi kompetensi berkala
Solusi:
Sediakan program pengembangan berkelanjutan seperti training teknis, sertifikasi, knowledge sharing internal, dan exposure ke best practice industri.
6. Terlalu Bergantung pada Satu atau Dua Orang Kunci
Dalam banyak organisasi, pengetahuan kritikal Tim IT Internal terpusat pada satu atau dua orang saja. Seluruh akses, konfigurasi, dan pemahaman sistem bergantung pada individu tertentu. Ketergantungan ini menciptakan risiko besar terhadap keberlangsungan operasional jika orang tersebut tidak tersedia atau meninggalkan organisasi.
Dampak ketergantungan pada individu kunci:
- Single point of failure
- Risiko operasional tinggi
- Kesulitan audit dan troubleshooting
- Pengetahuan tidak terdokumentasi
Solusi:
Bangun budaya knowledge sharing, dokumentasi sistem yang rapi, dan manajemen akses yang baik untuk menghindari ketergantungan berlebihan pada individu tertentu.
7. Tidak Menyelaraskan Tim IT Internal dengan Budaya Perusahaan
Kesalahan terakhir yang sering diabaikan adalah memisahkan Tim IT Internal dari budaya dan nilai perusahaan. IT sering dianggap sebagai tim teknis yang berdiri sendiri, bukan bagian dari ekosistem organisasi. Padahal, budaya kerja sangat memengaruhi cara tim berkolaborasi, menangani insiden, dan berinovasi. Tanpa keselarasan budaya, inisiatif digital akan sulit berjalan.
Dampak ketidaksinkronan budaya:
- IT bekerja dalam silo
- Inisiatif digital sering ditolak
- Friksi antar divisi meningkat
Solusi:
Bangun budaya kolaboratif di mana Tim IT Internal menjadi bagian integral dari organisasi dan terlibat aktif dalam komunikasi lintas divisi.
Menyambungkan ke Layanan IT Staffing & Headhunting MSBU
Setelah memahami 7 kesalahan umum dalam membentuk Tim IT Internal, banyak perusahaan yang akhirnya memilih solusi eksternal untuk mengatasi tantangan rekrutmen teknologi. Salah satu cara efektif adalah dengan bermitra bersama MSBU Konsultan yang menyediakan layanan IT Staffing & Headhunting yang dirancang untuk membantu perusahaan mendapatkan talenta IT berkualitas sesuai kebutuhan bisnis.
Melalui layanan ini, MSBU membantu organisasi mempercepat proses rekrutmen—baik untuk kebutuhan jangka pendek maupun permanen dengan pendekatan konsultatif dan basis ekosistem komunitas perekrut yang kuat. Dengan komitmen terhadap SLA dan orientasi pada keberhasilan klien serta kandidat, MSBU telah terbukti mendukung banyak perusahaan dalam mengisi posisi IT yang kompleks dan krusial.
Pendekatan semacam ini menjadi relevan terutama ketika perusahaan ingin membangun Tim IT Internal yang efektif namun menghadapi kendala keterbatasan sumber daya, waktu, atau kompetensi rekrutmen. Dengan memanfaatkan layanan MSBU, organisasi dapat mengatasi hambatan tersebut sekaligus tetap fokus pada strategi teknologi dan pertumbuhan bisnisnya.
Baca juga: Beban HRD Terlalu Berat? Outsourcing IT Bisa Jadi Solusi
Kesimpulan
Pada akhirnya, kekuatan Tim IT Internal ditentukan oleh bagaimana perusahaan merancang peran, struktur, dan arah pengembangannya sejak awal. Menghindari kesalahan umum ini membuka jalan bagi tim IT yang lebih adaptif dan bernilai strategis. Untuk perusahaan yang ingin membangun atau memperkuat tim IT secara lebih terarah, kolaborasi dengan mitra seperti MSBU melalui layanan IT Staffing & Headhunting dapat menjadi langkah praktis untuk mendapatkan talenta yang tepat, selaras dengan kebutuhan bisnis.
Anda bisa mengunjungi MSBU Konsultan!, layanan IT staffing dan rekrutmen yang dapat membantu perusahaan Anda menemukan kandidat terbaik dengan lebih aman dan efisien.
