Peluang Karir Cybersecurity untuk Non-Teknologi
Read Time 7 mins | 03 Feb 2026 | Written by: Nur Rachmi Latifa

Perkembangan teknologi digital membawa dampak besar bagi dunia kerja, termasuk munculnya berbagai peluang karir cybersecurity. Namun, hingga saat ini masih banyak anggapan bahwa karir cybersecurity hanya bisa dimasuki oleh orang berlatar belakang teknologi atau IT. Faktanya, kebutuhan tenaga cybersecurity justru semakin meluas ke bidang non-teknologi. Organisasi modern menyadari bahwa ancaman siber tidak hanya berasal dari kelemahan sistem, tetapi juga dari perilaku manusia, proses kerja, kebijakan internal, dan pengelolaan risiko.
Mengapa Cybersecurity Membutuhkan Talenta Non-Teknologi?
Cybersecurity saat ini tidak lagi hanya berbicara tentang teknologi seperti firewall, server, atau malware. Dalam praktiknya, banyak insiden keamanan siber justru terjadi bukan karena sistem yang lemah, tetapi karena cara manusia berinteraksi dengan teknologi tersebut. Kesalahan kecil dalam mengambil keputusan, kurangnya pemahaman risiko, hingga proses kerja yang tidak disiplin sering kali menjadi pintu masuk utama bagi serangan siber. Beberapa faktor non-teknis yang paling sering memicu insiden cybersecurity antara lain:
- Kesalahan manusia (human error)
- Kurangnya pemahaman keamanan di kalangan karyawan
- Social engineering dan phishing
- Kebijakan keamanan yang tidak dipahami atau tidak dijalankan
- Proses bisnis yang lemah atau tidak konsisten
Berbagai laporan industri menunjukkan bahwa sebagian besar insiden cybersecurity melibatkan faktor manusia. Karena itu, organisasi membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh—menggabungkan manusia, proses, dan tata kelola, bukan hanya mengandalkan teknologi. Inilah yang membuat peluang karir cybersecurity terbuka luas bagi talenta non-teknologi, yang mampu menjembatani keamanan siber dengan perilaku, budaya kerja, dan kebutuhan bisnis sehari-hari.
Baca juga: Cara Berkomunikasi Efektif di Lingkungan Kerja Profesional
Apa yang Dimaksud Karir Cybersecurity untuk Non-Teknologi?
Karir cybersecurity untuk non-teknologi merujuk pada peran di bidang keamanan siber yang tidak menuntut kemampuan teknis mendalam seperti coding, network engineering, atau penetration testing. Peran ini lebih berfokus pada bagaimana keamanan diterapkan, dipahami, dan dijalankan dalam aktivitas organisasi sehari-hari, terutama dari sisi manusia, proses, dan pengambilan keputusan. Secara umum, fokus utama peran non-teknologi dalam cybersecurity meliputi:
- Edukasi dan kesadaran keamanan
- Manajemen risiko siber
- Penyusunan kebijakan dan tata kelola
- Kepatuhan terhadap regulasi
- Analisis perilaku manusia
- Komunikasi dan manajemen krisis
Meski tidak bersifat teknis, peran-peran ini memiliki kontribusi strategis dalam menjaga keamanan organisasi secara berkelanjutan. Untuk memahami bagaimana peran tersebut diterjemahkan ke dalam pekerjaan nyata, pembahasan selanjutnya akan mengulas jenis peluang karir cybersecurity untuk non-teknologi yang paling relevan dan banyak dibutuhkan saat ini.
1. Cybersecurity Awareness & Training Specialist
Peran ini berfokus pada upaya membangun pemahaman dan kebiasaan aman karyawan dalam menggunakan teknologi sehari-hari. Cybersecurity Awareness & Training Specialist menjadi garda terdepan dalam mengurangi risiko siber yang bersumber dari kesalahan manusia, melalui edukasi yang relevan dan mudah dipahami oleh seluruh lapisan organisasi.
Tanggung jawab utama:
- Menyusun materi pelatihan keamanan siber
- Membuat kampanye anti-phishing dan awareness digital
- Mengedukasi karyawan terkait ancaman digital terkini
- Mengukur efektivitas program awareness dan perubahan perilaku
Latar belakang yang relevan:
- Pendidikan
- HR dan Learning & Development
- Komunikasi
- Training dan fasilitator
Peran ini merupakan salah satu peluang karir cybersecurity dengan permintaan tertinggi, terutama di perusahaan besar, sektor keuangan, dan industri yang memiliki risiko tinggi terhadap kebocoran data.
2. Governance, Risk, and Compliance (GRC)
Governance, Risk, and Compliance (GRC) memainkan peran penting dalam memastikan cybersecurity dijalankan secara terstruktur, terdokumentasi, dan selaras dengan regulasi yang berlaku. Posisi ini menjadi penghubung antara kebutuhan bisnis, kewajiban hukum, dan praktik keamanan siber.
Tanggung jawab utama:
- Menyusun dan meninjau kebijakan keamanan informasi
- Mengelola dan memantau risiko siber organisasi
- Mendukung proses audit dan kepatuhan
- Memastikan organisasi mematuhi standar dan regulasi yang relevan
Latar belakang yang sesuai:
- Hukum
- Audit dan compliance
- Manajemen risiko
- Akuntansi
GRC dikenal sebagai jalur karir cybersecurity non-teknologi yang stabil, strategis, dan berjangka panjang, karena selalu dibutuhkan di berbagai industri.
3. Cyber Risk Analyst (Non-Teknis)
Cyber Risk Analyst non-teknis berfokus pada pemahaman risiko siber dari sudut pandang bisnis, bukan dari sisi teknis sistem. Peran ini membantu organisasi melihat ancaman siber sebagai risiko nyata terhadap operasional, keuangan, dan reputasi perusahaan.
Fokus utama peran ini:
- Mengidentifikasi risiko siber dari sisi bisnis
- Menilai dampak finansial dan reputasi akibat insiden siber
- Membantu manajemen mengambil keputusan berbasis risiko
- Menyusun risk register dan laporan risiko
Peran ini cocok bagi profesional dengan latar belakang bisnis, manajemen, atau risk management yang terbiasa berpikir strategis dan berbasis dampak.
4. Incident Response Coordinator (Non-Teknis)
Saat insiden cybersecurity terjadi, organisasi tidak hanya membutuhkan solusi teknis, tetapi juga koordinasi yang cepat dan terstruktur. Incident Response Coordinator non-teknis memastikan seluruh proses penanganan insiden berjalan rapi dan terdokumentasi dengan baik.
Tanggung jawab utama:
- Mengelola komunikasi internal dan eksternal saat insiden
- Mendokumentasikan kronologi kejadian
- Berkoordinasi lintas divisi dan tim terkait
- Menyusun laporan insiden dan evaluasi pasca-kejadian
Skill kunci:
- Manajemen krisis
- Komunikasi
- Kepemimpinan
- Dokumentasi
Peran ini sangat krusial dalam menjaga kepercayaan manajemen, regulator, dan pemangku kepentingan saat insiden siber terjadi.
5. Cybersecurity Policy & Documentation Specialist
Cybersecurity Policy & Documentation Specialist memastikan bahwa kebijakan keamanan tidak hanya ada di atas kertas, tetapi juga dapat dipahami dan diterapkan secara nyata oleh karyawan. Tanpa dokumentasi yang jelas, teknologi keamanan sering kali gagal dijalankan dengan benar.
Tugas utama:
- Menyusun kebijakan dan SOP keamanan siber
- Menyesuaikan kebijakan dengan proses bisnis organisasi
- Membuat panduan praktis yang mudah dipahami karyawan
Peran ini cocok untuk profesional di bidang dokumentasi, legal, dan konsultan yang terbiasa bekerja dengan kebijakan, standar, dan prosedur operasional.
6. Human Risk & Behavioral Security Specialist
Human Risk & Behavioral Security Specialist berfokus pada aspek perilaku manusia sebagai faktor utama dalam cybersecurity. Peran ini muncul seiring kesadaran bahwa teknologi tidak akan efektif tanpa perubahan perilaku pengguna.
Cakupan peran:
- Analisis perilaku pengguna dalam konteks keamanan siber
- Studi penyebab terjadinya human error
- Perancangan intervensi perubahan perilaku
- Pembangunan budaya keamanan siber yang berkelanjutan
Latar belakang yang relevan untuk peran ini meliputi psikologi, behavioral science, dan HR, menjadikannya salah satu jalur karir cybersecurity paling human-centric saat ini.
Skill yang Dibutuhkan untuk Karir Cybersecurity Non-Teknologi
Karir cybersecurity untuk non-teknologi tidak menuntut kemampuan teknis seperti coding atau konfigurasi sistem, namun tetap membutuhkan cara berpikir yang tepat. Profesional non-teknologi di bidang cybersecurity dituntut mampu melihat risiko secara menyeluruh—bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi juga dari sudut pandang manusia, proses kerja, dan dampaknya terhadap bisnis. Karena itu, kemampuan analisis dan komunikasi menjadi fondasi utama dalam peran ini. Skill dasar yang dibutuhkan meliputi:
- Critical thinking
- Analisis risiko
- Komunikasi yang efektif
- Pemahaman proses bisnis
- Problem solving
Selain skill dasar, terdapat skill pendukung yang membantu profesional non-teknologi berkontribusi lebih efektif dalam lingkungan cybersecurity. Skill ini tidak bersifat teknis mendalam, tetapi penting untuk memahami konteks ancaman dan bagaimana risiko tersebut dikelola dalam organisasi. Skill pendukung yang relevan antara lain:
- Pemahaman dasar cybersecurity
- Awareness terhadap phishing dan social engineering
- Penyusunan kebijakan dan prosedur
- Data literacy dasar
Pada akhirnya, yang paling penting bukan kemampuan teknis, melainkan kemampuan memahami konteks, membaca pola risiko, dan menilai dampaknya terhadap manusia dan bisnis secara nyata.
Apakah Sertifikasi Cybersecurity Diperlukan?
Sertifikasi cybersecurity tidak selalu menjadi syarat wajib, terutama bagi peran non-teknologi. Namun, sertifikasi dapat menjadi nilai tambah untuk menunjukkan pemahaman dasar, komitmen belajar, dan kredibilitas profesional—terutama bagi Anda yang baru masuk ke dunia cybersecurity tanpa latar belakang IT. Beberapa sertifikasi yang relatif ramah bagi non-teknologi antara lain:
- ISO 27001 Foundation / Awareness
- Risk Management
- Privacy & Data Protection
- Security Awareness Trainer
Meski demikian, di banyak organisasi, pengalaman praktis dan kemampuan memahami konteks bisnis sering kali lebih dihargai dibanding sertifikasi teknis semata. Sertifikasi sebaiknya diposisikan sebagai pendukung, bukan satu-satunya modal.
Prospek Karir Cybersecurity untuk Non-Teknologi
Permintaan tenaga cybersecurity terus meningkat secara global seiring bertambahnya ancaman siber dan regulasi yang semakin ketat. Organisasi kini menyadari bahwa keamanan siber tidak hanya membutuhkan engineer, tetapi juga profesional non-teknologi yang mampu menjembatani aspek teknis dengan manusia dan proses bisnis. Profesional non-teknologi dibutuhkan untuk:
- Mengelola dan mengomunikasikan risiko
- Mengedukasi manusia dan membangun kesadaran
- Menjaga kepatuhan terhadap regulasi
- Membangun budaya keamanan yang berkelanjutan
Secara umum, karir cybersecurity menawarkan:
- Stabilitas jangka panjang
- Mobilitas lintas industri
- Jalur karir yang jelas
- Relevansi tinggi di masa depan
Cara Memulai Karir Cybersecurity Tanpa Latar Belakang IT
Memulai karir cybersecurity tanpa latar belakang IT sangat memungkinkan jika dilakukan secara bertahap dan realistis. Banyak profesional cybersecurity saat ini justru berasal dari bidang non-teknologi dan berkembang melalui pengalaman langsung di organisasi. Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Mempelajari konsep dasar cybersecurity
- Memahami jenis ancaman siber yang umum terjadi
- Mengikuti webinar, pelatihan, dan materi edukasi
- Mengambil peran kecil terkait keamanan di tempat kerja
- Membangun portofolio non-teknis seperti kebijakan, materi awareness, atau risk assessment
Faktanya, banyak profesional sukses di bidang cybersecurity memulai dari peran non-teknologi, lalu berkembang seiring meningkatnya pengalaman dan pemahaman mereka terhadap risiko siber.
Baca juga: Cara Beradaptasi dengan Dunia Kerja bagi Fresh Graduate
Kesimpulan
Cybersecurity bukan lagi bidang eksklusif bagi teknisi atau programmer. Di tengah meningkatnya ancaman siber dan tuntutan kepatuhan, peluang karir cybersecurity untuk non-teknologi semakin luas dan strategis, karena organisasi membutuhkan individu yang mampu mengelola risiko, mengubah perilaku, menyusun kebijakan, serta mengkomunikasikan keamanan secara efektif. Jika Anda mencari karir yang relevan, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi bisnis dan manusia, karir cybersecurity layak dipertimbangkan—bahkan tanpa latar belakang teknologi.
Temukan Lowongan Pekerjaan Di MSBU Konsultan!
