Merasa Tidak Pantas Sukses? Itu Imposter Syndrome
Read Time 9 mins | 18 Feb 2026 | Written by: Nur Rachmi Latifa

Imposter Syndrome adalah fenomena psikologis ketika seseorang merasa tidak pantas atas pencapaian yang diraihnya. Ia merasa suksesnya hanya karena keberuntungan, bantuan orang lain, atau kebetulan semata. Padahal secara objektif, ia memiliki kompetensi, pengalaman, dan kerja keras yang jelas. Jika Anda pernah berpikir, “Saya sebenarnya tidak sepintar ini,” atau “Suatu hari nanti orang akan tahu saya ini sebenarnya tidak kompeten,” kemungkinan besar Anda sedang mengalami Imposter Syndrome. Fenomena ini bukan hal langka. Justru banyak profesional sukses, eksekutif, akademisi, bahkan founder startup mengalami Imposter Syndrome dalam diam.
Apa Itu Imposter Syndrome?
Istilah Imposter Syndrome pertama kali diperkenalkan oleh dua psikolog, Pauline Clance dan Suzanne Imes pada tahun 1978. Mereka meneliti perempuan berprestasi tinggi yang merasa bahwa kesuksesan mereka tidak layak dan hanya “kebetulan”. Menariknya, para responden penelitian tersebut sebenarnya memiliki pencapaian akademik dan profesional yang sangat kuat, namun tetap merasa dirinya tidak cukup baik.
Imposter Syndrome bukan gangguan mental resmi dalam DSM-5, tetapi merupakan pola pikir yang bisa berdampak serius terhadap kepercayaan diri, kesehatan mental, dan performa kerja. Dalam banyak kasus, kondisi ini berkembang secara perlahan dan sering tidak disadari oleh penderitanya. Secara sederhana, Imposter Syndrome adalah kondisi ketika seseorang:
- Meragukan kemampuannya sendiri
- Takut dianggap “penipu”
- Mengatribusikan keberhasilan pada faktor eksternal
- Sulit menerima pujian
Orang yang mengalami Imposter Syndrome cenderung berpikir bahwa keberhasilannya terjadi karena keberuntungan, timing yang tepat, atau bantuan orang lain — bukan karena kompetensi dan kerja kerasnya sendiri. Padahal secara fakta, ia kompeten dan layak atas pencapaiannya.
Baca juga: Peluang Karir Cybersecurity untuk Non-Teknologi
Mengapa Imposter Syndrome Bisa Terjadi?
Imposter Syndrome tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang bisa memicu kondisi ini dan sering kali berkembang secara tidak disadari sejak lama.
Pola Asuh dan Lingkungan Masa Kecil
Lingkungan yang terlalu menuntut atau sering membandingkan anak dengan orang lain dapat menanamkan keyakinan bahwa dirinya “tidak cukup baik”. Keyakinan ini bisa terbawa hingga dewasa dan membuat seseorang sulit merasa layak atas pencapaiannya.
Perfeksionisme
Perfeksionis cenderung menetapkan standar yang sangat tinggi pada dirinya sendiri. Ketika hasil tidak 100% sempurna, mereka langsung merasa gagal, meskipun secara objektif sudah menunjukkan performa yang sangat baik.
Lingkungan Kompetitif
Lingkungan kerja dengan tekanan tinggi, target agresif, dan budaya kompetitif dapat memperkuat Imposter Syndrome. Apalagi jika Anda berada di antara orang-orang yang terlihat sangat kompeten, rasa tidak percaya diri bisa semakin besar.
Perubahan Peran atau Promosi
Saat mendapatkan promosi atau tanggung jawab baru, banyak orang mulai mempertanyakan kemampuannya sendiri. Alih-alih melihat promosi sebagai bukti kompetensi, mereka justru merasa belum siap.
Budaya yang Mengagungkan Kesuksesan Eksternal
Media sosial sering menampilkan pencapaian tanpa memperlihatkan proses dan kegagalan. Hal ini menciptakan standar tidak realistis dan memperkuat perasaan tertinggal dibandingkan orang lain.
Pada akhirnya, berbagai faktor ini dapat membentuk pola pikir yang membuat seseorang terus meragukan dirinya sendiri, meskipun bukti objektif menunjukkan sebaliknya.
Tanda-Tanda Anda Mengalami Imposter Syndrome
Berikut ciri-ciri umum Imposter Syndrome yang sering tidak disadari dan kerap dianggap sebagai “kerendahan hati biasa”.
- Sulit Menerima Pujian
Ketika dipuji, Anda cenderung menolak pengakuan tersebut dengan mengatakan, “Itu cuma kebetulan,” atau “Saya hanya beruntung.” Anda sulit menerima bahwa keberhasilan tersebut memang hasil kemampuan dan usaha Anda sendiri. - Takut Ketahuan Tidak Kompeten
Ada ketakutan tersembunyi bahwa suatu hari orang lain akan menyadari bahwa Anda sebenarnya tidak sehebat yang mereka pikirkan. Perasaan ini muncul meskipun tidak ada bukti nyata yang mendukungnya. - Overworking untuk Membuktikan Diri
Karena takut gagal, Anda bekerja jauh lebih keras dari yang diperlukan. Dorongan ini bukan karena ambisi sehat, melainkan karena rasa takut dianggap tidak mampu. - Meremehkan Pencapaian Sendiri
Ketika target tercapai, Anda langsung menganggapnya sebagai hal biasa atau standar minimum. Tidak ada ruang untuk merayakan keberhasilan karena Anda merasa itu memang “seharusnya” terjadi. - Menganggap Orang Lain Lebih Pantas
Anda sering merasa orang lain lebih cerdas, lebih berbakat, dan lebih layak berada di posisi tertentu, meskipun Anda memiliki pengalaman dan pencapaian yang setara.
Jika beberapa tanda ini terasa familiar, bisa jadi Anda sedang mengalami Imposter Syndrome tanpa menyadarinya.
Dampak Imposter Syndrome
Imposter Syndrome bukan sekadar rasa minder biasa. Jika dibiarkan terus-menerus, dampaknya bisa memengaruhi kesehatan mental dan perjalanan karier seseorang.
- Burnout: Dorongan untuk selalu membuktikan diri membuat seseorang terus bekerja tanpa jeda. Lama-kelamaan, energi terkuras dan muncul kelelahan fisik maupun emosional.
- Kecemasan Tinggi: Rasa takut “terbongkar” sebagai tidak kompeten dapat menciptakan kecemasan kronis, terutama saat menghadapi evaluasi, presentasi, atau tanggung jawab besar.
- Menghambat Karier: Banyak orang dengan Imposter Syndrome menolak promosi atau peluang baru karena merasa belum siap. Akibatnya, potensi diri tidak berkembang secara maksimal.
- Menurunkan Kepuasan Hidup: Seseorang bisa mencapai banyak hal, tetapi tetap merasa tidak pernah cukup. Kesuksesan tidak lagi memberi rasa bangga, melainkan justru tekanan tambahan.
Karena itu, memahami dampaknya menjadi langkah penting agar Imposter Syndrome tidak terus menghambat pertumbuhan pribadi maupun profesional Anda.
Siapa Saja yang Rentan Mengalami Imposter Syndrome?
Banyak orang mengira Imposter Syndrome hanya dialami oleh mereka yang kurang percaya diri. Padahal, faktanya justru sebaliknya. Kondisi ini sering muncul pada individu yang memiliki pencapaian tinggi dan berada dalam fase pertumbuhan karier yang signifikan. Imposter Syndrome sering dialami oleh:
- High achievers
- Profesional muda
- Founder startup
- Eksekutif baru
- Mahasiswa berprestasi
- Individu yang menjadi “orang pertama” dalam keluarga atau lingkungannya
Menariknya, semakin tinggi pencapaian seseorang, semakin besar potensi Imposter Syndrome muncul. Hal ini terjadi karena standar diri ikut meningkat, dan lingkungan sekitar pun semakin kompetitif. Ironisnya, orang yang paling kompeten justru sering menjadi yang paling keras meragukan dirinya sendiri.
5 Tipe Imposter Syndrome
Menurut penelitian psikologis lanjutan, Imposter Syndrome bisa muncul dalam beberapa pola perilaku dan cara berpikir. Setiap tipe memiliki karakteristik yang berbeda, meskipun akarnya tetap sama: keraguan terhadap kemampuan diri sendiri.
The Perfectionist
Tipe ini menetapkan standar selalu 100% dan hampir tidak memberi ruang untuk kesalahan. Sedikit saja hasil tidak sesuai ekspektasi, langsung dianggap sebagai kegagalan besar. Mereka sulit merasa puas dan cenderung fokus pada kekurangan, bukan pada pencapaian.
The Superhuman
Individu dengan tipe ini merasa harus unggul di semua bidang sekaligus. Mereka ingin menjadi profesional hebat, rekan kerja terbaik, pemimpin inspiratif, sekaligus pribadi yang sempurna. Ketika tidak mampu memenuhi semua peran secara maksimal, muncul rasa bersalah dan tidak kompeten.
The Natural Genius
Tipe ini percaya bahwa jika sesuatu tidak langsung terasa mudah, berarti dirinya tidak berbakat. Mereka terbiasa cepat memahami sesuatu, sehingga ketika menghadapi tantangan yang membutuhkan proses belajar, langsung meragukan kapasitasnya.
The Soloist
Orang dengan pola ini enggan meminta bantuan karena takut dianggap lemah atau tidak mampu. Mereka merasa harus menyelesaikan semuanya sendiri untuk membuktikan kompetensinya, padahal kolaborasi adalah bagian normal dari dunia profesional.
The Expert
Tipe ini merasa belum cukup tahu meskipun sudah sangat kompeten. Mereka terus mencari sertifikasi, pelatihan, atau validasi tambahan karena takut dianggap kurang ahli. Ironisnya, semakin banyak belajar, semakin tinggi standar yang mereka tetapkan untuk diri sendiri.
Memahami tipe mana yang paling menggambarkan diri Anda adalah langkah awal untuk mengelola Imposter Syndrome secara lebih efektif.
Cara Mengatasi Imposter Syndrome
Kabar baiknya, Imposter Syndrome bukanlah kondisi permanen. Dengan kesadaran dan latihan yang konsisten, pola pikir ini bisa diubah menjadi lebih sehat dan realistis.
Sadari dan Akui Polanya
Langkah pertama adalah menyadari bahwa keraguan tersebut merupakan pola pikir, bukan fakta objektif. Tanyakan pada diri sendiri: Apa bukti nyata bahwa saya tidak kompeten? Apakah ada data yang benar-benar mendukung pikiran negatif ini? Sering kali, jawabannya tidak ada, dan ketakutan tersebut hanya asumsi.
Simpan “Evidence File”
Buat daftar pencapaian, proyek yang berhasil, testimoni klien, atau pujian dari atasan dan rekan kerja. Dokumentasi ini bisa menjadi pengingat objektif saat rasa ragu muncul. Ketika Imposter Syndrome menyerang, Anda memiliki bukti konkret untuk menyeimbangkan pikiran negatif.
Ubah Self-Talk
Bahasa internal sangat memengaruhi keyakinan diri. Ganti kalimat seperti “Saya cuma beruntung” menjadi “Saya bekerja keras untuk ini.” Perubahan kecil dalam cara berbicara pada diri sendiri dapat membentuk pola pikir yang lebih sehat dalam jangka panjang.
Berani Minta Bantuan
Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari profesionalisme dan kolaborasi. Tidak ada seorang pun yang mampu melakukan semuanya sendiri, dan bekerja sama justru menunjukkan kedewasaan serta kemampuan adaptasi.
Terima Bahwa Tidak Ada yang Tahu Segalanya
Setiap orang berada dalam proses belajar, termasuk mereka yang berada di posisi tertinggi. Bahkan CEO sekalipun terus belajar dan berkembang. Menyadari bahwa ketidaktahuan adalah bagian dari pertumbuhan dapat membantu meredakan tekanan untuk selalu terlihat sempurna.
Dengan menerapkan langkah-langkah ini secara konsisten, Anda bisa mulai membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri dan menghentikan siklus keraguan yang tidak berdasar.
Imposter Syndrome dalam Dunia Kerja
Di dunia profesional modern yang bergerak cepat dan penuh tekanan, Imposter Syndrome sering muncul sebagai respons terhadap berbagai tuntutan eksternal. Banyak profesional merasa harus selalu tampil sempurna di tengah perubahan yang konstan dan ekspektasi yang terus meningkat. Di dunia kerja, Imposter Syndrome sering muncul karena:
- Perubahan teknologi cepat
- Tuntutan produktivitas tinggi
- Lingkungan kerja yang kompetitif
- Ekspektasi sosial terhadap kesuksesan
Dalam organisasi, Imposter Syndrome bisa berdampak pada:
- Penurunan inovasi (takut salah)
- Minimnya partisipasi dalam diskusi
- Kurangnya pengambilan keputusan strategis
Perusahaan yang sehat biasanya membangun budaya psikologis yang aman (psychological safety), sehingga karyawan berani bertanya, mencoba, dan menyampaikan pendapat tanpa takut dihakimi.
Apakah Imposter Syndrome Selalu Negatif?
Menariknya, sedikit keraguan diri sebenarnya bisa menjadi hal yang sehat. Ia membantu seseorang tetap rendah hati, terbuka terhadap masukan, dan terus belajar untuk berkembang. Masalah mulai muncul ketika Imposter Syndrome:
- Menghambat pertumbuhan
- Menghancurkan kepercayaan diri
- Membuat kita menolak peluang
Jadi yang perlu diatasi bukanlah kerendahan hati, melainkan distorsi pikiran yang membuat seseorang terus meremehkan dirinya sendiri tanpa dasar yang objektif.
Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?
Dalam banyak kasus, Imposter Syndrome bisa dikelola melalui refleksi diri dan perubahan pola pikir. Namun, jika kondisi ini sudah mulai mengganggu fungsi sehari-hari dan kesehatan mental, penting untuk mempertimbangkan bantuan profesional. Jika Imposter Syndrome sudah menyebabkan:
- Gangguan tidur
- Serangan panik
- Depresi
- Ketakutan ekstrim saat bekerja
Maka konsultasi dengan psikolog atau konselor sangat disarankan. Terapi kognitif-perilaku (CBT) terbukti efektif untuk membantu mengubah pola pikir negatif yang berulang dan membangun kembali kepercayaan diri secara lebih stabil.
Baca juga: Hal yang Sebaiknya Tidak Ditulis di CV
Kesimpulan
Imposter Syndrome adalah fenomena umum yang bisa dialami siapa saja, terutama mereka yang berprestasi tinggi. Perasaan tidak pantas sukses bukan berarti Anda memang tidak pantas, seringkali itu hanya suara internal yang terlalu keras. Mengatasi Imposter Syndrome membutuhkan kesadaran, latihan, dan kadang bantuan profesional. Namun kabar baiknya: Anda tidak sendirian. Jika hari ini Anda merasa “tidak cukup baik”, mungkin justru itu tanda bahwa Anda sedang berkembang. Dan ingat: kesuksesan Anda bukan kebetulan. Itu hasil kerja keras, pembelajaran, dan ketekunan yang nyata.
Temukan Lowongan Pekerjaan Di MSBU Konsultan!
