Industri TI merupakan salah satu sektor yang paling cepat mengalami perubahan. Teknologi yang sekarang dipandang sebagai “terdepan” mungkin sudah ketinggalan zaman dalam waktu 2–3 tahun mendatang. Industri teknologi informasi selalu erat kaitannya dengan transformasi.
Namun, dalam lima tahun terakhir, perubahan itu bukan lagi sekadar evolusi, tetapi telah menjadi revolusi. Kecerdasan Buatan (AI), otomatisasi, komputasi awan, blockchain, serta Internet of Things (IoT) telah mengubah metode perusahaan dalam beroperasi, berinovasi, dan bersaing. Di tengah percepatan AI, otomatisasi, dan transformasi digital, ada satu pertanyaan penting yang muncul: Apakah kita siap beradaptasi, atau justru perlahan tertinggal?
Transformasi digital saat ini bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan. Perusahaan di berbagai industri mulai dari perbankan, kesehatan, ritel, sampai pemerintahan bersaing untuk melakukan digitalisasi.
Berbagai tren utama yang mempengaruhi masa depan sektor IT:
Perubahan ini menciptakan peluang besar, tetapi juga tantangan besar bagi talenta IT.
Adaptasi di industri IT bukan hanya soal belajar teknologi baru, tetapi juga soal mindset. Contoh skill yang relevan hari ini bisa jadi akan usang dalam 3 - 5 tahun ke depan. Tiap orang yang ingin terus bertahan harus upskilling (meningkatkan skill yang sudah ada), reskilling (belajar skill baru yang berbeda), mengikuti perkembangan tren teknologi global.
Beberapa catatan penting perlu dilakukan untuk mengimplementasikan tiga hal diatas adalah:
1. Punya growth mindset
2. Punya keinginan upgrade skill
3. Terbuka dengan perubahan
4. Berani keluar dari comfort zone
5. Bergabung dengan ekosistem yang adaptif akan perubahan
Jika kita perhatikan, kini banyak peran IT kini bersifat hybrid. Developer perlu memahami bisnis, Tech Recruiter perlu memahami teknologi, Product Manager perlu memahami data. Batasan antara role semakin tipis dengan semakin majunya teknologi.
Di tengah perkembangan AI, soft skill seperti komunikasi, problem solving, leadership, dan collaboration justru semakin penting. Teknologi bisa mengotomatisasi proses, tetapi tidak bisa menggantikan empati dan strategi manusia sepenuhnya.
Baca juga: Bertumbuh Bersama: Mengenal Lebih Dekat FRC Ecosystem
Setiap organisasi tentu memiliki budaya dan kemampuan yang beragam. Pengaruh ini menyebabkan adopsi teknologi dan kecepatan adaptasi di setiap organisasi berbeda-beda, tergantung pada kebutuhan, budaya, kesiapan teknologi, serta strategi bisnis yang diimplementasikan.
FRC Ecosystem telah mengimplementasikan teknologi dan AI dalam operasi untuk sistem rekrutmen yang dimilikinya. Sesuai dengan DNA perusahaan yang mengintegrasikan AI, FRC menggunakan robot (AI) untuk memperbaiki sistem rekrutmen dengan para freelancer agar lebih efektif dan efisien.
Untuk kamu yang ingin terus terupdate dengan teknologi dan tidak ketinggalan jaman, kamu dapat kenalan lebih jauh dan menjadi bagian dari FRC Ecosystem melalui https://msbu.co.id/en/frc