Blog MSBU | Tips & Insight Dunia IT Recruitment

Bahaya Menunda Update Sistem pada Laptop Kerja Karyawan

Written by Nur Rachmi Latifa | 12 Jan 2026

Di banyak perusahaan, laptop kerja karyawan telah menjadi tulang punggung operasional bisnis. Mulai dari komunikasi internal, pengelolaan data pelanggan, hingga akses ke sistem keuangan—semuanya bergantung pada perangkat ini. Namun, ada satu kebiasaan yang masih sering dianggap sepele, padahal berisiko tinggi yaitu menunda update sistem. Notifikasi update sering muncul di waktu yang “tidak tepat”: saat dikejar deadline, sedang meeting penting, atau ketika laptop terasa masih berfungsi dengan baik. Akibatnya, update ditunda berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Padahal, di balik tombol “Remind me later”, tersimpan potensi risiko keamanan, gangguan operasional, dan kerugian bisnis yang tidak kecil. 

Apa yang Dimaksud dengan Update Sistem?

Update sistem adalah proses pembaruan perangkat lunak yang dilakukan secara berkala oleh pengembang untuk memastikan sistem tetap aman, stabil, dan kompatibel dengan teknologi terbaru. Pembaruan ini mencakup sistem operasi, driver, firmware, serta berbagai aplikasi pendukung yang digunakan pada laptop kerja karyawan. Secara umum, update sistem biasanya berisi:

  • Patch keamanan untuk menutup celah (vulnerability) yang berpotensi dimanfaatkan oleh penyerang
  • Perbaikan bug yang dapat mengganggu performa dan stabilitas sistem
  • Peningkatan fitur dan kompatibilitas dengan aplikasi atau perangkat terbaru
  • Optimalisasi stabilitas dan kecepatan sistem agar laptop tetap andal untuk kebutuhan kerja harian

Bagi laptop kerja karyawan, update sistem bukan sekadar peningkatan kosmetik atau tampilan antarmuka. Update sistem merupakan bagian penting dari mekanisme pertahanan digital perusahaan, karena berperan langsung dalam melindungi data bisnis, menjaga kelancaran operasional, serta meminimalkan risiko keamanan akibat sistem yang usang.

Baca juga: Penyebab Laptop Kantor Cepat Lemot dan Cara Menghindarinya

Mengapa Karyawan Sering Menunda Update Sistem?

Sebelum membahas bahayanya, penting untuk memahami alasan di balik kebiasaan menunda update sistem pada laptop kerja karyawan. Dalam praktiknya, ada beberapa faktor umum yang sering terjadi di lingkungan kerja.

  • Takut Mengganggu Pekerjaan
    Banyak karyawan khawatir proses update akan memakan waktu lama, memaksa laptop restart di saat genting, atau mengubah tampilan dan alur kerja aplikasi yang sudah terbiasa digunakan sehari-hari.
  • Kurangnya Kesadaran Risiko
    Update sistem sering dianggap hanya membawa fitur baru atau perubahan visual, sehingga karyawan tidak menyadari bahwa pembaruan tersebut sebenarnya berfungsi menutup celah keamanan yang berisiko tinggi.
  • Laptop Masih Terasa “Baik-Baik Saja”
    Selama laptop kerja masih bisa digunakan tanpa kendala berarti, update sistem dipersepsikan tidak mendesak, meskipun di balik layar sistem tersebut mungkin sudah rentan terhadap ancaman.
  • Tidak Ada Kebijakan yang Tegas
    Tanpa kebijakan perusahaan yang jelas dan konsisten, update sistem kerap dianggap sebagai tanggung jawab pribadi karyawan, bukan bagian dari kewajiban kerja dan pengelolaan aset perusahaan.

Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat kebiasaan menunda update sistem terasa wajar, padahal di baliknya tersimpan risiko besar yang sering luput disadari. Inilah yang menjadikan topik Bahaya Menunda Update Sistem pada Laptop Kerja Karyawan penting untuk dipahami lebih dalam, karena dampaknya tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga dapat mengancam keamanan, produktivitas, dan keberlangsungan bisnis perusahaan. Berikut adalah dampak-dampak utama yang perlu diwaspadai.

1. Celah Keamanan yang Mudah Dieksploitasi

Salah satu risiko paling serius dari menunda update sistem adalah terbukanya celah keamanan yang seharusnya sudah ditutup. Setiap update sistem umumnya dirilis untuk memperbaiki kerentanan yang telah diketahui secara publik oleh vendor maupun komunitas keamanan siber.

Ketika update ditunda, laptop kerja karyawan tetap memiliki “pintu terbuka” yang dapat dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab. Bagi penjahat siber, perangkat yang belum di-update merupakan target empuk karena tidak memerlukan teknik serangan yang rumit, cukup memanfaatkan celah lama yang exploit-nya sudah tersedia secara luas.

Bahaya menunda update sistem di titik ini sangat nyata: satu laptop kerja yang tidak ter-update dapat menjadi pintu masuk ke jaringan internal perusahaan, membuka akses ke sistem lain, dan memperbesar dampak insiden keamanan secara signifikan.

2. Risiko Malware, Ransomware, dan Spyware

Laptop kerja karyawan yang tidak diperbarui secara rutin memiliki tingkat kerentanan yang jauh lebih tinggi terhadap berbagai jenis serangan siber. Tanpa update sistem, perangkat menjadi lebih mudah disusupi oleh ancaman yang memanfaatkan celah keamanan lama. Beberapa risiko utama yang sering muncul antara lain:

  • Malware pencuri data, yang dirancang untuk mengambil informasi sensitif seperti kredensial login, data pelanggan, atau dokumen internal perusahaan tanpa disadari pengguna.
  • Ransomware, yaitu serangan yang mengunci file penting di laptop kerja karyawan dan menuntut tebusan agar data dapat diakses kembali, sehingga berpotensi menghentikan aktivitas bisnis.
  • Spyware, yang bekerja secara diam-diam memantau aktivitas karyawan, termasuk pengetikan, akses aplikasi, hingga kebiasaan kerja, dan mengirimkan data tersebut ke pihak eksternal.

Serangan-serangan ini sering kali tidak langsung terasa. Karyawan mungkin tetap bekerja seperti biasa, sementara di belakang layar data sensitif perusahaan dikirimkan secara diam-diam ke pihak yang tidak bertanggung jawab. Dalam konteks bisnis, satu insiden malware saja sudah cukup untuk memicu kebocoran data pelanggan, gangguan operasional, hingga kerugian finansial dan reputasi yang berdampak jangka panjang. Inilah alasan mengapa menunda update sistem pada laptop kerja karyawan bukan hanya risiko teknis, tetapi juga ancaman serius bagi keberlangsungan perusahaan.

3. Penurunan Performa Laptop Kerja

Ironisnya, salah satu alasan utama karyawan menunda update sistem adalah kekhawatiran laptop kerja akan menjadi lebih lambat. Padahal, dalam banyak kasus, update sistem justru dirilis untuk memperbaiki masalah performa yang selama ini mengganggu aktivitas kerja. Tanpa update sistem yang rutin, berbagai kendala teknis akan terus menumpuk, seperti:

  • Bug lama yang tetap ada, sehingga kesalahan sistem yang seharusnya sudah diperbaiki terus berulang.
  • Konflik antar aplikasi yang semakin sering terjadi, terutama ketika aplikasi kerja diperbarui tetapi sistem operasinya tertinggal.
  • Sistem yang menjadi tidak stabil, ditandai dengan error mendadak atau respons yang melambat.

Akibatnya, laptop kerja karyawan lebih sering mengalami hang, crash, atau penurunan kecepatan, yang secara langsung berdampak pada efisiensi kerja. Dalam skala tim atau organisasi, kondisi ini dapat menurunkan produktivitas secara keseluruhan dan memperbesar risiko kesalahan kerja akibat sistem yang tidak andal.

4. Ketidakcocokan dengan Aplikasi Kerja

Aplikasi kerja modern seperti tools kolaborasi, software akuntansi, hingga berbagai platform berbasis cloud terus mengalami pembaruan agar lebih aman dan efisien. Tanpa update sistem yang seimbang, laptop kerja karyawan berisiko mengalami berbagai kendala teknis. Beberapa masalah yang umum terjadi antara lain:

  • Error saat membuka atau menjalankan aplikasi, sehingga pekerjaan tertunda atau harus diulang.
  • Fitur aplikasi yang tidak berfungsi optimal, karena sistem operasi tidak lagi kompatibel dengan versi terbaru aplikasi.
  • Kegagalan sinkronisasi data, yang berpotensi menyebabkan perbedaan data antar sistem atau kehilangan informasi penting.

Masalah-masalah ini sering kali dianggap sebagai “kesalahan aplikasi”, padahal akar permasalahannya justru berasal dari sistem yang tertinggal dan tidak diperbarui secara rutin.

5. Meningkatnya Risiko Human Error

Ketika sistem pada laptop kerja karyawan menjadi tidak stabil, karyawan cenderung mencari solusi cepat agar pekerjaan tetap bisa berjalan. Sayangnya, jalan pintas ini sering kali justru meningkatkan risiko keamanan. Beberapa perilaku berisiko yang kerap muncul antara lain:

  • Mengabaikan peringatan keamanan yang dianggap menghambat pekerjaan.
  • Menginstal software tidak resmi untuk menggantikan aplikasi yang bermasalah.
  • Menonaktifkan fitur keamanan, seperti antivirus atau firewall, agar sistem terasa lebih ringan.

Di sinilah risiko human error meningkat secara signifikan. Bahaya menunda update sistem tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mendorong terbentuknya kebiasaan kerja yang tidak aman dan sulit dikendalikan.

6. Dampak pada Kepatuhan dan Audit

Banyak sektor industri memiliki kewajiban untuk memenuhi standar dan regulasi keamanan informasi tertentu. Dalam konteks ini, laptop kerja karyawan yang tidak diperbarui secara berkala dapat dianggap sebagai kelalaian terhadap kontrol keamanan dasar. Dalam proses audit internal maupun eksternal, temuan seperti:

  • Sistem operasi yang sudah usang
  • Patch keamanan yang tertinggal
  • Versi aplikasi yang tidak lagi didukung vendor

dapat menjadi catatan serius yang berdampak langsung pada penilaian risiko perusahaan. Selain berpotensi memicu rekomendasi perbaikan yang mahal, kondisi ini juga dapat memengaruhi tingkat kepercayaan regulator, mitra bisnis, dan pelanggan terhadap komitmen keamanan perusahaan.

Studi Kasus Singkat: Satu Laptop, Masalah Besar

Bayangkan satu laptop kerja karyawan yang menunda update sistem selama enam bulan karena dianggap tidak mendesak. Suatu hari, karyawan tersebut menerima email phishing yang terlihat meyakinkan dan tanpa sadar mengunduh file berbahaya. Karena sistem belum diperbarui, rangkaian kejadian berikut pun terjadi:

  • Malware berhasil dieksekusi, memanfaatkan celah keamanan lama yang seharusnya sudah ditutup oleh update sistem.
  • Kredensial kerja dicuri, termasuk akun email dan akses ke aplikasi internal perusahaan.
  • Akses ke jaringan internal perusahaan terbuka, memungkinkan penyerang bergerak ke sistem lain tanpa terdeteksi.

Dari satu perangkat yang tidak ter-update, insiden pun menyebar ke lingkungan kerja yang lebih luas. Biaya pemulihan, investigasi forensik, serta downtime operasional akhirnya jauh lebih besar dibandingkan waktu dan usaha yang dibutuhkan untuk melakukan update sistem secara rutin sejak awal.

Mengapa Update Sistem Harus Menjadi Tanggung Jawab Perusahaan?

Mengandalkan kesadaran individu saja tidak cukup untuk menjaga keamanan laptop kerja karyawan. Perangkat tersebut merupakan aset perusahaan, sehingga pengelolaannya harus dilakukan secara terstruktur dan konsisten, bukan diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing karyawan. Perusahaan perlu memandang update sistem sebagai:

  • Bagian dari manajemen risiko, karena keterlambatan update dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya insiden keamanan.
  • Kontrol keamanan dasar, yang seharusnya diterapkan secara merata pada seluruh laptop kerja karyawan.
  • Investasi produktivitas jangka panjang, karena sistem yang ter-update cenderung lebih stabil, aman, dan andal.

Tanpa pendekatan yang terstruktur dan dukungan kebijakan dari perusahaan, bahaya menunda update sistem akan terus berulang dan berpotensi menimbulkan dampak yang semakin besar bagi keamanan serta keberlangsungan bisnis.

Solusi Inovatif untuk Mengelola Update Sistem Laptop Kerja

Meningkatkan kesadaran karyawan saja tidak cukup untuk mengatasi kebiasaan menunda update sistem. Diperlukan solusi inovatif yang praktis, scalable, dan sesuai dengan dinamika kerja modern agar pengelolaan laptop kerja karyawan dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

Otomatisasi Update Sistem

Mengaktifkan update sistem secara otomatis di luar jam kerja dapat mengurangi resistensi karyawan, menjaga produktivitas tetap optimal, memastikan sistem selalu up-to-date, serta menurunkan risiko keamanan tanpa mengganggu aktivitas kerja harian.

Kebijakan Update yang Jelas dan Sederhana

Kebijakan internal yang mudah dipahami, misalnya kewajiban update maksimal dalam jangka waktu tertentu setelah rilis atau pembatasan akses bagi laptop kerja yang belum di-update perlu disosialisasikan sebagai bagian dari budaya kerja aman, bukan sekadar aturan teknis IT.

Edukasi Berbasis Risiko Nyata

Alih-alih edukasi teknis yang rumit, perusahaan sebaiknya menekankan dampak nyata dari update sistem, seperti bagaimana pembaruan melindungi pekerjaan karyawan dan contoh insiden yang relevan dengan aktivitas kerja sehari-hari, sehingga lebih efektif dalam mendorong perubahan perilaku.

Monitoring dan Visibilitas Status Update

Perusahaan perlu memiliki visibilitas yang jelas terkait laptop kerja mana yang belum di-update, risiko yang muncul, serta tindakan lanjutan yang perlu dilakukan, sehingga keputusan pengamanan dapat diambil secara cepat dan tepat.

Pendekatan Human-Centric Security

Solusi inovatif tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada manusia. Sistem keamanan yang baik harus mendukung karyawan, memberikan pengingat yang kontekstual, serta membantu membangun kebiasaan kerja yang aman agar kepatuhan meningkat secara alami.

Pemanfaatan Solusi Device-as-a-Service (DaaS) dari Renpal

Selain aspek kebijakan dan teknis, perusahaan juga dapat mengadopsi pendekatan Device-as-a-Service (DaaS) melalui layanan Renpal. Dengan model DaaS, laptop kerja karyawan dikelola secara terpusat mulai dari pengadaan perangkat, pembaruan sistem, hingga siklus penggantian perangkat. Hal ini membantu memastikan seluruh laptop kerja selalu menggunakan sistem yang ter-update, aman, dan sesuai standar perusahaan tanpa membebani tim internal IT.

Dengan mengombinasikan otomatisasi, kebijakan yang jelas, edukasi yang relevan, visibilitas sistem, pendekatan human-centric, serta dukungan solusi DaaS seperti Renpal, perusahaan dapat mengelola update sistem laptop kerja secara lebih terstruktur. Pendekatan ini tidak hanya menekan bahaya menunda update sistem, tetapi juga meningkatkan keamanan, efisiensi operasional, dan produktivitas karyawan dalam jangka panjang.

Baca Juga: 10 Rekomendasi Laptop Terbaik untuk Karyawan Kantoran Tahun Ini

Kesimpulan

Bahaya menunda update sistem pada laptop kerja karyawan sering diremehkan, padahal dapat memicu celah keamanan, penurunan performa, hingga kebocoran data. Di era kerja digital, laptop kerja merupakan pintu masuk ke ekosistem bisnis, sehingga update sistem harus menjadi bagian dari manajemen risiko dan budaya kerja yang sehat. Dengan solusi inovatif yang menggabungkan teknologi, kebijakan, pendekatan human-centric, serta pengelolaan perangkat terpusat melalui Device-as-a-Service (DaaS) seperti Renpal, perusahaan dapat menjaga keamanan dan produktivitas secara berkelanjutan tanpa membebani tim internal.

Mau sewa laptop? Cek Renpal sekarang!