Kesalahan Pitching yang Paling Sering Dilakukan Founder
Read Time 7 mins | 05 Jan 2026 | Written by: Nur Rachmi Latifa

Pitching adalah momen krusial di mana sebuah ide bisnis dipresentasikan kepada pihak lain, entah itu investor, klien, atau mitra strategis. Bagi seorang founder, pitching bukan sekadar menyampaikan data atau strategi, tetapi juga momen untuk menunjukkan keyakinan dan potensi nyata dari bisnis yang dibangun. Namun sayangnya, masih banyak kesalahan pitching yang justru meredupkan peluang besar para founder dalam menarik perhatian investor atau stakeholder penting lainnya. Memahami apa saja kesalahan pitching yang sering terjadi bukan hanya membantu founder memperbaiki cara penyampaian, tetapi juga meningkatkan peluang mendapatkan dukungan — baik berupa dana, kemitraan, maupun akses pasar.
Mengapa Pitching Itu Penting bagi Founder?
Bagi seorang founder, pitching bukan sekadar sesi presentasi formal di depan investor. Pitching adalah momen krusial untuk menerjemahkan ide, visi, dan potensi bisnis menjadi cerita yang masuk akal dan meyakinkan. Dari sinilah investor menilai bukan hanya bisnisnya, tetapi juga cara berpikir, kesiapan, dan kapasitas founder dalam membangun perusahaan ke depan. Pentingnya pitching bagi seorang founder tidak bisa diremehkan, karena melalui pitching inilah berbagai peluang strategis bisa terbuka, seperti:
- Membangun keyakinan investor terhadap model bisnis dan potensi pertumbuhan jangka panjang.
- Mendapatkan modal yang dibutuhkan untuk ekspansi dan penguatan operasional.
- Menemukan partner strategis yang dapat membuka akses jaringan, pengalaman, dan peluang bisnis baru.
Karena itu, pitching menjadi kompetensi inti yang wajib dimiliki setiap founder dan bukan hanya soal menyampaikan data, tetapi tentang membangun kepercayaan dan meninggalkan kesan kuat di benak pendengar. Berikut ini adalah beberapa kesalahan pitching yang paling sering dilakukan founder beserta solusinya:
Baca juga: Mengapa Banyak Founder Memilih EQUITEN sebagai Jalur Pitching
1. Kurangnya Pemahaman Terhadap Audiens
Salah satu kesalahan pitching yang paling sering dilakukan founder adalah tidak memahami siapa audiens atau investor yang mereka hadapi. Banyak founder masih menggunakan pitch deck yang sama untuk semua investor, tanpa menyesuaikan dengan fokus industri, latar belakang, dan prioritas investasi masing-masing audiens. Akibatnya, pitching terasa datar dan tidak relevan. Kesalahan ini biasanya terlihat dari:
- Pitch deck yang terlalu generik dan kurang relevan
- Tidak menyinggung fokus atau thesis investasi investor
- Minim riset terhadap latar belakang audiens
Solusinya, founder perlu meluangkan waktu untuk memahami profil investor sebelum pitching. Dengan menyesuaikan narasi dan sudut pandang pitch, investor akan merasa bahwa bisnis Anda memang relevan dengan kebutuhan mereka, bukan sekadar presentasi massal.
2. Pitching yang Terlalu Teknis atau Tidak Jelas
Pitching yang efektif seharusnya mudah dipahami, bahkan oleh audiens non-teknis. Namun, banyak founder justru terjebak menjelaskan detail teknis atau jargon yang membuat investor kehilangan fokus terhadap pesan utama. Hal ini sering membuat investor bingung, bukan tertarik. Kesalahan ini sering muncul dalam bentuk:
- Terlalu banyak istilah teknis tanpa konteks
- Fokus pada fitur, bukan manfaat
- Pesan utama tidak tersampaikan dengan jelas
Solusinya, sederhanakan cara penyampaian. Fokuslah pada masalah, solusi, dan dampak bisnis. Detail teknis bisa disimpan untuk sesi lanjutan ketika investor sudah tertarik dan ingin menggali lebih dalam.
3. Pitching yang Terlalu Teknis atau Tidak Jelas
Pitch deck tanpa alur yang jelas membuat investor kesulitan mengikuti cerita bisnis yang disampaikan. Lompat dari satu topik ke topik lain tanpa narasi yang runtut adalah kesalahan pitching yang sering dianggap fatal karena membuat pesan utama sulit ditangkap. Pitching yang efektif umumnya memiliki struktur:
- Masalah yang ingin diselesaikan
- Solusi yang ditawarkan
- Potensi pasar
- Strategi bisnis
- Proyeksi keuangan
- Penutup dengan call-to-action
Solusinya, susun pitch sebagai sebuah cerita utuh. Struktur yang rapi membantu investor memahami nilai bisnis secara menyeluruh dan melihat alur logika dari ide hingga peluang investasi.
4. Tidak Menyampaikan Nilai Tambah yang Jelas
Investor tidak hanya mencari ide yang menarik, tetapi nilai tambah yang membedakan bisnis dari kompetitor. Banyak founder gagal menegaskan unique value proposition sehingga bisnis terdengar “biasa saja” dan mudah dibandingkan dengan solusi lain di pasar. Kesalahan ini biasanya ditandai dengan:
- Diferensiasi yang lemah atau mudah ditiru
- Nilai bisnis tidak dikaitkan dengan kebutuhan pasar
- Alasan investasi yang kurang kuat
Solusinya, founder perlu menjawab satu pertanyaan penting: mengapa bisnis ini layak dipilih? Tegaskan keunggulan utama dan kaitkan langsung dengan kebutuhan atau pain point pasar.
5. Terlalu Banyak Informasi yang Disampaikan
Terlalu banyak data dan slide sering kali justru mengaburkan pesan utama. Alih-alih terlihat matang, pitching menjadi bertele-tele dan membuat investor kehilangan fokus pada inti bisnis yang ingin disampaikan. Ciri kesalahan ini antara lain:
- Slide terlalu padat dengan teks dan angka
- Banyak data tanpa narasi strategis
- Durasi pitch melewati waktu ideal
Solusinya, pilih informasi yang paling relevan dan berdampak. Pitching bukan tentang menunjukkan semua yang Anda tahu, tetapi menyampaikan hal paling penting yang perlu diketahui investor dalam waktu singkat.
6. Pitching yang Tidak Didukung Data Keuangan yang Kuat
Proyeksi keuangan adalah fondasi penting dalam pitching. Tanpa angka yang realistis dan dapat dipertanggungjawabkan, investor akan meragukan kesiapan bisnis, meskipun ide yang ditawarkan menarik. Kesalahan ini sering terlihat dari:
- Proyeksi yang terlalu optimistis
- Kurang memahami struktur biaya
- Penggunaan dana investasi yang tidak jelas
Solusinya, siapkan data keuangan yang masuk akal dan transparan. Investor tidak menuntut kesempurnaan, tetapi ingin melihat bahwa founder memahami angka dan risiko bisnisnya.
7. Minim Latihan Presentasi
Pitching bukan hanya soal konten, tetapi juga cara penyampaian. Minim latihan membuat banyak founder tampil kurang percaya diri, terbata-bata, atau tidak siap menghadapi pertanyaan kritis dari investor. Dampaknya biasanya terlihat pada:
- Penyampaian yang terbata-bata
- Waktu pitching tidak terkontrol
- Jawaban Q&A yang kurang meyakinkan
Solusinya, lakukan latihan berulang dan simulasi pitching. Semakin sering berlatih, semakin natural penyampaian Anda, dan semakin besar rasa percaya diri saat pitching sesungguhnya.
8. Mengabaikan Cerita atau Storytelling
Pitching yang hanya berisi angka dan fakta sering terasa datar dan mudah dilupakan. Storytelling membantu menghubungkan visi bisnis dengan audiens secara emosional, sehingga pitch terasa lebih hidup. Storytelling yang kuat biasanya mencakup:
- Latar belakang lahirnya ide bisnis
- Tantangan yang pernah dihadapi
- Motivasi dan visi jangka panjang founder
Solusinya, jadikan pitch sebagai cerita perjalanan bisnis. Investor cenderung lebih mudah mengingat cerita dibandingkan sekadar angka.
9. Tidak Menyampaikan “Kenapa Sekarang”
Investor hampir selalu bertanya: mengapa bisnis ini relevan sekarang? Banyak pitching gagal karena founder tidak mampu menjelaskan momentum pasar dan urgensi waktu. Kesalahan ini terlihat ketika:
- Tidak ada urgensi yang jelas
- Tren pasar tidak dikaitkan dengan solusi
- Peluang terlihat bisa ditunda
Solusinya, jelaskan konteks pasar saat ini dan momentum yang membuat bisnis Anda relevan sekarang. Investor tertarik pada peluang yang tepat waktu, bukan hanya ide bagus.
10. Tidak Siap Menjawab Pertanyaan Mendalam
Sesi tanya jawab sering menjadi penentu keputusan investor. Tidak siap menjawab pertanyaan sulit dapat merusak kesan positif yang sudah dibangun saat pitching. Pertanyaan yang sering muncul biasanya terkait:
- Risiko bisnis
- Asumsi keuangan
- Tantangan dan kompetisi pasar
Solusinya, antisipasi pertanyaan sejak awal dan siapkan jawaban yang jujur serta logis. Kesiapan menjawab menunjukkan penguasaan bisnis dan kedewasaan founder.
11. Kurangnya Fokus pada Kolaborasi dan Kemitraan
Masih banyak founder memandang pitching hanya sebagai ajang mencari modal. Padahal, bagi investor modern, investasi adalah awal dari kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan. Kesalahan ini terlihat ketika founder:
- Hanya fokus pada pendanaan
- Tidak membuka ruang kolaborasi
- Tidak menunjukkan kesiapan bekerja bersama investor
Solusinya, tampilkan sikap terbuka terhadap kolaborasi. Investor ingin tahu bagaimana mereka bisa berkontribusi dalam pertumbuhan bisnis, bukan sekadar memberikan dana.
Dampak Kesalahan Pitching terhadap Kesempatan Founder
Kesalahan pitching sering kali tidak langsung terasa dampaknya, tetapi efeknya bisa sangat menentukan. Dalam banyak kasus, satu kesalahan kecil saat pitching sudah cukup membuat investor ragu untuk melanjutkan diskusi. Padahal, peluang yang hilang tersebut belum tentu datang kembali dalam waktu dekat. Setiap kesalahan pitching berpotensi menimbulkan dampak serius bagi founder, antara lain:
- Mengurangi peluang mendapatkan investasi, meskipun ide bisnis sebenarnya menjanjikan.
- Membuat investor kehilangan minat secara cepat, bahkan sebelum pitch selesai.
- Menurunkan kepercayaan diri founder, terutama setelah menerima penolakan berulang.
- Menciptakan persepsi bahwa bisnis belum matang, baik dari sisi strategi maupun perencanaan.
Kabar baiknya, kesalahan-kesalahan tersebut dapat dihindari dengan persiapan yang matang, riset audiens yang tepat, pitch deck yang terstruktur, serta kemampuan menyampaikan cerita dan nilai bisnis secara jelas. Semakin founder memahami cara pandang investor sebagai audiens utama, semakin besar pula peluang pitching menghasilkan outcome yang diharapkan.
Pitching Modern: Dari Tantangan ke Peluang — Peran Speed Pitching melalui EQUITEN
Di tengah ekosistem startup dan bisnis yang semakin kompetitif, pitching tidak lagi bisa dilakukan dengan cara lama yang panjang dan berbelit. Founder kini membutuhkan ruang pitching yang lebih cepat, relevan, dan langsung mempertemukan mereka dengan investor yang tepat. Inilah konteks di mana EQUITEN hadir sebagai platform pitching yang mempertemukan bisnis dan investor secara langsung, transparan, dan efisien, dengan fokus pada nilai nyata dan potensi pertumbuhan jangka panjang.
Berbeda dari platform finansial pada umumnya, EQUITEN bukan P2P lending, bukan equity crowdfunding, dan bukan marketplace pinjaman. EQUITEN berada di wilayah yang lebih strategis: mempertemukan founder dan investor yang memiliki visi sejalan untuk membangun bisnis berkelanjutan. Melalui konsep Equity in 10 Minutes, founder ditantang menyampaikan inti bisnisnya secara ringkas dan jelas, sementara investor berpengalaman dapat menilai kelayakan bisnis tanpa birokrasi panjang dan proses yang melelahkan.
Lebih dari sekadar pendanaan, EQUITEN mengusung filosofi beyond money—bahwa investasi adalah awal dari kemitraan, bukan akhir dari transaksi. Dalam format speed pitching yang terstruktur namun sederhana, founder terdorong untuk memperbaiki kesalahan pitching klasik seperti tidak memahami audiens, pitch yang terlalu teknis, atau struktur yang tidak fokus. Hasilnya bukan hanya peluang deal yang lebih cepat, tetapi juga hubungan kolaboratif antara founder dan investor yang siap tumbuh bersama.
Baca juga: Sulit Mendapat Modal Tanpa Utang? Speed Pitching Jadi Jalan Keluar
Kesimpulan
Pitching adalah skill yang bisa dipelajari dan diasah. Kesalahan pitching yang sering terjadi seperti kurangnya riset audiens, pitch yang tidak jelas, struktur yang buruk, serta kurangnya storytelling atau kesiapan menjawab pertanyaan dan sejatinya merupakan panggilan bagi setiap founder untuk terus berlatih dan memperbaiki pendekatan mereka. Dengan memperhatikan best practice dalam pitching, serta memahami model–model baru seperti speed pitching melalui platform seperti EQUITEN, founder kini memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan — baik itu modal, partner strategis, atau jalan baru dalam pertumbuhan bisnis.
Siap bawa bisnismu naik level? Daftar sekarang untuk bergabung di Batch 1 EQUITEN!
