Perusahaan tidak lagi hanya mencari talenta terbaik, tetapi juga berusaha mengoptimalkan potensi setiap individu di dalam organisasi. Namun kenyataannya, tidak semua karyawan langsung menunjukkan performa optimal. Ada yang masuk dalam kategori Low Perform, ada pula yang berkembang menjadi High Perform. Pertanyaannya, apakah seseorang yang berada di level low perform bisa berubah menjadi high perform? Jawabannya: bisa. Salah satu pendekatan paling efektif untuk menjembatani transformasi tersebut adalah melalui Coaching.
Sebelum membahas bagaimana Coaching dapat mengubah performa seseorang, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan Low Perform. Banyak organisasi terlalu cepat memberi label tanpa benar-benar memahami konteks di balik penurunan kinerja tersebut. Istilah Low Perform merujuk pada individu yang menunjukkan kinerja di bawah ekspektasi. Ini bukan sekadar soal target yang tidak tercapai, tetapi juga bisa mencakup:
Namun penting untuk dipahami bahwa Low Perform bukan berarti “tidak kompeten.” Dalam banyak kasus, individu sebenarnya memiliki potensi, tetapi belum berada dalam sistem, lingkungan, atau pola kerja yang mendukung performa optimal. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang berada di fase ini, seperti:
Di sinilah organisasi sering melakukan kesalahan. Alih-alih menggali akar masalah, beberapa perusahaan langsung mengambil tindakan korektif yang bersifat menghukum, seperti teguran keras atau bahkan pemutusan hubungan kerja. Padahal, pendekatan yang lebih strategis dan manusiawi dapat menghasilkan perubahan yang jauh lebih berdampak. Dengan pendekatan yang tepat, Low Perform justru bisa menjadi titik awal transformasi menuju High Perform.
Baca juga: Membangun Budaya Belajar di Lingkungan Kerja
Jika Low Perform berada di bawah ekspektasi, maka High Perform adalah kebalikannya. Namun, High Perform bukan hanya tentang angka tinggi atau pencapaian sesaat, melainkan konsistensi dalam memberikan hasil terbaik. High Perform adalah individu yang secara konsisten melampaui ekspektasi. Mereka memiliki ciri-ciri seperti:
High Perform juga biasanya memiliki tingkat self-awareness yang tinggi. Mereka memahami kekuatan dan kelemahan diri, serta terus mencari cara untuk berkembang. Menariknya, banyak High Perform bukanlah “bakat alami” sejak awal. Mereka berkembang melalui proses pembelajaran, pengalaman, dan tentu saja, bimbingan yang tepat.
Transformasi dari Low Perform ke High Perform sering kali bukan soal kemampuan teknis semata, melainkan soal pola pikir, kejelasan tujuan, dan sistem dukungan yang tepat. Inilah yang membuat Coaching menjadi sangat relevan dalam perjalanan pengembangan individu.
Jika Low Perform dan High Perform berada di dua ujung spektrum kinerja, maka Coaching adalah jembatan yang menghubungkan keduanya. Coaching bukan sekadar metode HR, melainkan pendekatan strategis dalam membangun performa berkelanjutan. Coaching adalah proses pengembangan individu melalui percakapan terstruktur yang bertujuan menggali potensi, meningkatkan kesadaran diri (self-awareness), serta mendorong tanggung jawab pribadi terhadap performa.
Dalam Coaching, individu tidak diberi jawaban secara langsung, tetapi dibantu untuk menemukan jawabannya sendiri. Berbeda dengan training yang berfokus pada transfer pengetahuan, Coaching lebih berfokus pada:
Coaching bekerja pada level yang lebih dalam—mengubah cara berpikir, bukan hanya cara bekerja. Karena itu, dalam konteks transformasi Low Perform menjadi High Perform, Coaching bukan sekadar sesi diskusi formal antara atasan dan bawahan. Ia adalah proses strategis yang berkelanjutan, sistematis, dan berdampak jangka panjang terhadap budaya kerja. Melalui Coaching yang konsisten, individu yang sebelumnya berada dalam kategori Low Perform dapat menemukan kembali motivasi, meningkatkan kompetensi, serta membangun pola kerja yang membawa mereka menjadi High Perform secara nyata dan terukur.
Sebelum membahas bagaimana Coaching bekerja mengubah Low Perform menjadi High Perform, kita perlu memahami terlebih dahulu akar penyebab dari rendahnya kinerja tersebut. Low Perform sering kali bukan soal malas atau tidak mampu, melainkan kombinasi faktor sistem, kepemimpinan, dan pengembangan individu.
Banyak karyawan tidak memahami bagaimana pekerjaan mereka berkontribusi terhadap tujuan besar organisasi. Ketika peran terasa tidak bermakna atau target tidak dijelaskan secara spesifik, motivasi cenderung menurun. Tanpa arah yang jelas, individu bekerja sekadar menyelesaikan tugas, bukan menciptakan dampak.
Tanpa umpan balik yang jelas dan konstruktif, individu tidak mengetahui posisi performanya saat ini maupun area yang perlu ditingkatkan. Ketidakjelasan ini membuat perbaikan sulit terjadi karena mereka tidak memiliki panduan konkret tentang apa yang harus diubah atau dikembangkan.
Gaya kepemimpinan yang mengandalkan tekanan, ancaman, atau rasa takut justru menciptakan lingkungan defensif. Alih-alih berkembang, karyawan menjadi lebih fokus menghindari kesalahan daripada mencari solusi. Dalam jangka panjang, pola ini menurunkan engagement dan menghambat potensi High Perform.
Terkadang penyebab Low Perform sangat sederhana: individu belum memiliki keterampilan atau kompetensi yang sesuai dengan tuntutan peran. Tanpa pelatihan, mentoring, atau Coaching yang tepat, gap kemampuan ini akan terus berulang dan memengaruhi hasil kerja.
Memahami faktor-faktor ini membantu organisasi melihat Low Perform secara lebih objektif dan strategis. Di sinilah Coaching berperan penting untuk mengurai akar masalah secara sistematis dan membuka jalan menuju High Perform yang berkelanjutan.
Berikut adalah tahapan transformasi melalui Coaching yang secara sistematis membantu individu bergerak dari performa rendah menuju performa tinggi:
Langkah pertama dan paling fundamental dalam Coaching adalah meningkatkan kesadaran diri (self-awareness). Banyak individu yang berada dalam kategori Low Perform sebenarnya tidak sepenuhnya menyadari perilaku, kebiasaan, atau pola pikir yang menghambat perkembangan mereka. Mereka mungkin menyalahkan situasi, target, atau lingkungan, tanpa melihat kontribusi diri terhadap hasil yang terjadi. Seorang Coach akan membantu membuka perspektif melalui pertanyaan reflektif yang mendalam, seperti:
Melalui dialog yang jujur dan terarah, individu mulai melihat area yang perlu diperbaiki. Self-awareness ini menjadi fondasi perubahan, karena tanpa kesadaran, tidak akan ada perbaikan yang berkelanjutan. High Perform selalu dimulai dari pemahaman diri yang kuat.
Sering kali akar dari Low Perform bukanlah kurangnya kemampuan, melainkan pola pikir yang membatasi. Banyak individu terjebak dalam fixed mindset, seperti:
Pola pikir seperti ini membuat seseorang berhenti mencoba dan mengurangi upaya untuk berkembang. Coaching membantu menggeser pola tersebut menjadi growth mindset yang lebih konstruktif dan solutif, misalnya:
Perubahan mindset inilah yang sering menjadi titik balik terbesar dalam perjalanan dari Low Perform ke High Perform. Ketika individu mulai percaya bahwa mereka bisa berkembang, perilaku dan hasil kerja pun ikut berubah.
Individu dengan kategori High Perform hampir selalu memiliki tujuan yang jelas, terukur, dan terarah. Sebaliknya, banyak Low Perform bekerja tanpa target yang spesifik atau tanpa pemahaman yang kuat tentang apa yang sebenarnya ingin dicapai. Dalam Coaching, tujuan biasanya disusun menggunakan pendekatan SMART:
Dengan tujuan yang konkret, individu memiliki arah yang jelas dan standar evaluasi yang terukur. Tanpa tujuan yang spesifik, perubahan hanya akan menjadi niat tanpa aksi nyata. Coaching membantu memastikan bahwa setiap target bukan hanya ditetapkan, tetapi juga dipahami dan dimiliki secara personal.
Salah satu kekuatan terbesar Coaching dalam mengubah Low Perform menjadi High Perform adalah menciptakan sistem akuntabilitas. Coaching tidak berhenti pada perencanaan, ia mendorong komitmen nyata terhadap tindakan. Dalam setiap sesi Coaching, akan selalu ada evaluasi progres melalui pertanyaan seperti:
Proses ini mendorong konsistensi dan disiplin, dua karakter utama yang dimiliki High Perform. Ketika individu tahu bahwa progresnya akan ditinjau dan direfleksikan, tingkat tanggung jawab pribadi meningkat secara signifikan. Akuntabilitas inilah yang membuat perubahan tidak berhenti di tengah jalan.
Berbeda dengan pendekatan tradisional yang sering berfokus pada kelemahan, Coaching modern lebih banyak menggunakan pendekatan berbasis kekuatan (strength-based approach). Artinya, Coach membantu individu mengidentifikasi keunggulan alami, bakat, dan potensi unik yang mereka miliki, lalu memanfaatkannya secara maksimal.
Banyak individu yang tergolong Low Perform sebenarnya memiliki kekuatan tertentu, tetapi belum menemukan cara yang tepat untuk mengoptimalkannya dalam konteks pekerjaan. Bisa jadi mereka memiliki kemampuan komunikasi yang baik, tetapi ditempatkan di peran yang kurang interaktif. Atau mereka memiliki analisis yang kuat, tetapi kurang percaya diri menyampaikan ide.
Dengan mengenali dan memaksimalkan kekuatan tersebut, rasa percaya diri meningkat, motivasi tumbuh, dan performa terdorong secara alami. High Perform sering kali bukan tentang menjadi sempurna di semua aspek, tetapi tentang menggunakan kekuatan utama secara konsisten dan strategis.
Transformasi dari Low Perform menjadi High Perform melalui Coaching tidak hanya membawa perubahan pada individu, tetapi juga memberikan efek sistemik terhadap organisasi secara keseluruhan. Ketika Coaching diterapkan secara konsisten, dampaknya akan terasa pada produktivitas, loyalitas, hingga budaya kerja jangka panjang.
Karyawan yang berkembang melalui Coaching cenderung memiliki arah kerja yang lebih jelas, mindset yang lebih positif, serta komitmen yang lebih kuat terhadap target. Hal ini secara langsung meningkatkan output individu dan berdampak pada performa tim secara kolektif. Ketika lebih banyak individu bergerak dari Low Perform ke High Perform, produktivitas organisasi pun meningkat secara signifikan.
Karyawan yang merasa didukung, didengar, dan diberi ruang untuk berkembang melalui Coaching akan memiliki tingkat engagement yang lebih tinggi. Mereka tidak hanya bekerja untuk menyelesaikan tugas, tetapi merasa menjadi bagian dari perjalanan organisasi. Rasa dihargai dan dibimbing ini mendorong loyalitas, sehingga risiko turnover dapat ditekan.
Ketika Coaching tidak hanya dilakukan sesekali, tetapi menjadi bagian dari sistem dan budaya perusahaan, organisasi akan memiliki mekanisme pengembangan yang berkelanjutan. Budaya High Performance terbentuk karena setiap individu terbiasa melakukan refleksi, menetapkan tujuan yang jelas, dan bertanggung jawab atas hasilnya. Dalam jangka panjang, ini menciptakan organisasi yang adaptif dan kompetitif.
Dengan demikian, Coaching bukan sekadar alat pengembangan individu, melainkan investasi strategis yang memperkuat fondasi organisasi menuju kinerja tinggi yang berkelanjutan.
Banyak organisasi secara tidak sadar memperburuk situasi ketika menghadapi Low Perform. Alih-alih menggali akar masalah, pendekatan yang diambil sering kali bersifat reaktif dan emosional. Hal ini justru membuat individu semakin defensif dan menjauh dari potensi High Perform. Beberapa kesalahan umum yang sering terjadi antara lain:
Pendekatan Coaching membantu organisasi menghindari pola-pola reaktif tersebut dengan mengganti hukuman menjadi dialog, dan kritik menjadi pengembangan.
Agar transformasi dari Low Perform menjadi High Perform berjalan konsisten, Coaching tidak bisa dilakukan secara sporadis. Ia harus menjadi sistem yang terstruktur dan terintegrasi dalam strategi pengembangan SDM perusahaan. Agar efektif, Coaching perlu dirancang dengan prinsip berikut:
Perusahaan yang serius ingin meningkatkan High Perform perlu menjadikan Coaching sebagai bagian strategis dalam sistem manajemen kinerja dan pengembangan talenta.
Perubahan dari Low Perform ke High Perform tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Namun, ada indikator yang dapat membantu organisasi mengidentifikasi bahwa proses Coaching mulai menunjukkan hasil nyata. Beberapa tanda transformasi menuju High Perform antara lain:
Transformasi ini jarang terjadi secara instan. Ia adalah proses bertahap yang dibangun melalui kesadaran, komitmen, dan Coaching yang konsisten hingga High Perform menjadi kebiasaan, bukan sekadar pencapaian sesaat.
Baca juga: Peran Sertifikasi dalam Meningkatkan Nilai Karyawan
Setiap organisasi pasti memiliki individu yang berada pada fase Low Perform. Namun, label tersebut tidak harus permanen. Dengan pendekatan yang tepat, khususnya melalui Coaching, potensi tersembunyi dapat dioptimalkan dan mengubah Low Perform menjadi High Perform. Coaching bukan hanya tentang memperbaiki kinerja, tetapi tentang membangun kesadaran, mengubah mindset, menetapkan tujuan yang jelas, dan menciptakan akuntabilitas.
Pada akhirnya, High Perform bukanlah hasil keberuntungan, melainkan hasil dari proses pengembangan yang konsisten. Jika organisasi Anda ingin membangun budaya High Perform yang berkelanjutan, mulailah dengan Coaching. Karena di balik setiap Low Perform, selalu ada potensi High Perform yang menunggu untuk dibangkitkan.
Temukan Lowongan Pekerjaan Di MSBU Konsultan!